Sunday, 21 February 2016

Kisah AL-FARABI Ilmuan Filsafat Muslim


AL-Farabi yang mempunyai nama lengkap Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzlag Al-farabi lahir di Wasij di Distrik Farab (juga dikenal dengan nama Utrar). Dan pada tahun 257 H/ 870 M dan meninggal di Damaskus tahun 950 M (berumur sekitar 80 tahun). Di dunia barat Al Farabi dikenal dengan nama Alpharabius atau Abunasir (Avennaser).
Al Farabi dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka dari era abad pertengahan. Selama hidupnya al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari Ilmu Pengetahuan, karya-karya al- Farabi dapat ditinjau menjdi 6 bagian:
  1. Logika 
  2. Ilmu-ilmu Matematika 
  3. Ilmu Alam 
  4. Teologi 
  5. Ilmu Politik dan kenegaraan 
  6. Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah). 

Ibunya berasal dari Turki dan ayahnya berasal dari Persia (Suriah). Ayah beliau adalah seorang opsir keturunan Persia yang mengabdi kepada pangeran-pangeran Dinasti Samaniyyah. Diprediksi masuknya keluarga Farabi ke dalam islam terjadi pada masa hidup kakek beliau, Tarkhan. Peristiwa itu terjadi kira-kira bersamaan dengan peristiwa penaklukan dan islamisasi atas Farab oleh Dinasti Samaniyyah pada tahun 839-840 M.

Ketika kecil, beliau dikenal rajin belajar dan memiliki otak yang cerdas, belajar agama, bahasa Arab, Bahasa Turki, dan bahasa Parsi di kota kelahirannya, Farab. Selain itu beliau juga mempelajari Al Qur'an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqih, tafsir, dan ilmu hadits) dan aritmatika dasar. Al Farabi muda belajar ilmu-ilmu Islam dan musik di Bukhara.  Lembaga pendidikan pada awalnya bersifat tradisional yang mendapatkan dukungan finansial dari wakaf, sedangkan ilmu-ilmu rasional biasanya diajarkan di rumah atau di Dar Al-Ilm.

Kurang puas dengan pendidikan yang ada di sana, Ibnu Farabi pindah ke Baghdad yang merupakan pusat ilmu pengetahuan dan peradaban saat itu. Di Baghdad beliau bertemu dengan orang-orang terkenal dari beragam disiplin ilmu pengetahuan. Al Farabi belajar bahasa dan sastra Arab dari Abu Bakr al-Sarraj; belajar logika dan filsafat dari Abu Bisyr Mattius (seorang Kristen Nestorian) yang banyak menerjemahkan filsafat Yunani dan Yuhana bin Hailam (seorang filsuf Kristen). Al-Farabi unggul dalam ilmu logika. Beliau banyak memberikan sumbangsih dalam penempaan sebuah bahasa filsafat baru dalam bahasa Arab meskipun menyadari perbedaan antara tata bahasa Arab dan Yunani.

Setelah kurang lebih 10 tahun tinggal di Baghdad, kira-kira pada tahun 920 M, Al Farabi mengembara ke kota Harran yang terletak di Utara Syria, dimana saat itu Harran merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil. Daerah Harran ini dikenal pula sebagai tempat nabi Ibrahim as lahir dan dibesarkan sekaligus menjadi tempat lahir bapak para nabi itu. Di Harran beliau belajar pada seorang filsuf kristen yang bernama Yuhanna bin Jilad. Al Farabi kemudian kembali lagi ke Baghdad untuk mengajar dan menulis. Beliau adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan, dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. 

Beliau berhasil menyusun sistematika konsepsi filsafat secara meyakinkan. Posisinya mirip dengan Plotinus (204-270 M) yang menjadi peletak filsafat pertama di dunia barat. Jika orang Arab menyebut Plotinus sebagai Syaikh al-Yunani (guru besar dari Yunani), maka mereka menyebut al Farabi sebagai al-Mu'allim al-Tsani (guru kedua). 'Guru pertama' disandang oleh Aristoteles. Julukan 'guru kedua' diberikan pada al Farabi karena beliau adalah filsuf muslim pertama yang berhasil menyingkap misteri kerumitan yang kontradiktif antara pemikiran filsafat Aristoteles dan Plato (guru Aristoteles). Karya Al Farabi yang berjudul al-Ibanah 'an Ghardh Aristhu fi Kitab Ma Ba'da al-Thabi'ah (Penjelasan Maksud Pemikiran Aristoteles tentang Metafisika) banyak membantu para filsuf sesudahnya dalam memahami pemikiran filsafat Yunani.

Al Farabi membawa manuskripnya yang berjudul Al-Madinah Al-Fadhilah, manuskrip yang mulai ditulisnya di Baghdad. Di Damaskus manuskrip tersebut berhasil diselesaikan pada tahun 942/3 M. Sekitar masa-masa ini Al Farabi melakukan perjalanan ke Mesir yang pada saat itu diperintah oleh Ikhsyidiyyah. Menurut Ibn Khallikan, di Mesir inilah Al Farabi menyelesaikan Siayasah Al-Madaniyyah yang mulai ditulis di Baghdad. Setelah meninggalkan Mesir, Al Farabi bergabung dengan lingkungan cendekiawan cemerlang filosof, penyair, dan sebagainya yang berada di sekitar Pangeran Hamdaniyyah yang bernama Said Al-Daulah.

Buah Pemikiran Filasafat Al Farabi Al Farabi menggunakan proses konseptual yang disebutnya dengan nazhariyyah al-faidh (teori emanasi) untuk memahami hubungan antara Tuhan dan alam pluralis dan empirik. Menurut teori ini, alam terjadi dan tercipta karena pancaran dari Yang Esa (Tuhan), yaitu keluarnya mumkin al-wujud (disebut alam) dari pancaran Wajib al-Wujud (Tuhan). Proses terjadinya emanasi (pancaran) ini melalui tafakur (berpikir) Tuhan tentang diri-Nya sehingga Wajib al-Wujud juga diartikan 'Tuhan yang Berpikir'. Tuhan senantiasa aktif berpikir tentang diri-Nya sendiri sekaligus menjadi obyek pemikiran.

Al Farabi memberi 3 istilah yang disandarkan pada Tuhan: 
1. al-'Aql (akal) >> sebagai zat atau hakikat dari akal-akal.
2. al-'Aqil (yang berakal) >> sebagai subyek lahirnya akal-akal.
3. al-Ma'qul (yang menjadi sasaran akal)>> sebagai obyek yang dituju oleh akal-akal Sistematika.

Teori emanasi al-Farabi adalah sebagai berikut: 
1. Tuhan sebagai al-'Aql dan sekaligus Wujud I. 
Tuhan sebagai al-'Aql (WUjud I) ini berpikir tentang diri-Nya sehingga melahirkan Wujud II yang substansinya adalah Akal I --> al-Sama' al-Awwal (langit pertama).
2. Wujud II berpikir tentang Wujud I sehingga melahirkan Wujud III yang substansinya Akal II --> al-Kawakib (bintang-bintang).
3. Wujud III berpikir tentang Wujud I sehingga melahirkan Wujud IV yang substansinya Akal III --> Saturnus.
4. Wujud IV berpikir tentang Wujud I sehingga melahirkan Wujud V yang substansinya Akal IV --> Jupiter.
5. Wujud V berpikir tentang Wujud I sehingga melahirkan Wujud VI yang sunstansinya Akal V --> Mars.
6. Wujud VI berpikir tentang Wujud I sehingga melahirkan Wujud VII yang substansinya Akal VI --> Matahari.
7. Wujud VII berpikir tentang Wujud I sehingga melahirkan Wujud VIII yang substansinya Akal VII --> Venus.
8. Wujud VIII berpikir tentang Wujud I sehingga melahirkan Wujud IX yang substansinya Akal VIII --> Mercury.
9. Wujud IX berpikir tentang Wujud I sehingga melahirkan Wujud X yang substansinya Akal IX --> Bulan 10. Wujud X berpikir tentang Wujud I sehingga melahirkan Wujud XI yang substansinya Akal X --> Bumi, ruh, materi pertama (Hyle) yang menjadi dasar terbentuknya bumi: api, udara, air, dan tanah. Akal X ini disebut juga al-'aql al-fa'al (akal aktif) yang biasa disebut Jibril yang berperan sebagai wahib al-suwar (pemberi bentuk, form).

Al Farabi membagi wujud-wujud itu ke dalam 2 kategori: 
1. Esensinya tidak berfisik Baik yang tidak menempati fisik (yaitu Tuahn, Akal I, dan Akal-Akal Planet) maupun yang menempati fisik (yaitu jiwa, bentuk, dan materi). 
2. Esensinya berfisik Yaitu benda-benda langit, manusia, hewan, tumbuhan, barang-barang tambang, dan unsur yang empat: api, udara, air, tanah Pemikiran Al Farabi tentang Jiwa Menurutnya, jiwa berasal dari pancaran Akal X (Jibril). Hubungan antara jiwa dan jasad hanya bersifat accident ('ardhiyyah), artinya ketika fisik binasa jiwa tidak ikut binasa karena substansinya berbeda. Jiwa manusia disebut al-nafs al-nathiqah (jiwa yang berpikir) yang berasal dari alam Illahi sedang jasad berasal dari alam khalq yang berbentuk, berkadar, bergerak, dan berdimensi.

 Jiwa manusia, menurut Al Farabi, memiliki 3 daya: 
1. Daya gerak (quwwah muharrikah), berupa makan (ghadiyah, nutrition); memelihara (murabbiyah, preservation); dan berkembang biak (muwallidah, reproduction). 
2. Daya mengetahui (quwwah mudrikah), berupa merasa (hassah, sensation) dan imajinasi (mutakhayyilah, imagination). 
3. Daya berpikir (al-quwwah al-nathiqah, intellectual), berupa akal praktis ('aql 'amali) dan akal teoritis ('aql nazhari).

'Aql nazhari terbagi pada 3 tingkatan: 
A. al-'aql al-hayulani (akal potensial, material intellect) yang mempunyai 'potensi berpikir' dalam arti melepaskan arti-arti atau bentuk-bentuk (mahiyah) dari materinya.
B. al-'aql bi al-fi'l (akal aktual, actual intellect) yang dapat melepaskan arti-arti (mahiyah) dari materinya dan arti-arti itu telah mempunyai wujud dalam akal yang sebenarnya (aktual) bukan lagi dalam bentuk potensial. 
C. al-'aql al-mustafad (akal pemerolehan, acquired intellect) yang sudah mampu menangkap bentuk murni (pure form) tanpa terikat pada materinya karena keberadaannya (pure form) tidak pernah menempati materi.

Al-'aql al-mustafad bisa berkomunikasi dengan Akal X (Jibril) dan mampu menangkap pengetahuan yang dipancarkan oleh 'akal aktif' ('aql fa'al). Dan 'aql fa'al menjadi mediasi yang bisa mengangkat akal potensial naik menjadi akal aktual, juga bisa mengangkat akal aktual naik menjadi akal mustafad. Hubungan anatar 'aql al-fa'al dan 'aql mustafad ibarat mata dan matahari. Pemikiran Al Farabi tentang Asal-Usul Negara dan Warga Negara Menurut Al Farabi, manusia merupakan warga negara yang merupakan salah satu syarat terbentuknya negara. Oleh karena itu manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuak orang lain, maka manusia menjalin hubungan-hubungan (asosiasi). Kemudian dalam proses yang panjang pada akhirnya terbentuk suatu Negara. Menurut Al Farabi, negara atau kota merupakan suatu kesatuan masyarakat yang paling mandiri dan paling mampu memenuhi kebutuhan hidup abtara lain: sandang, pangan, papan, dan kemanan, serta mampu mengatur ketertiban masyarakat sehingga mencapai kesempurnaan bagi masyarakat menjadi mudah. Negara yang sudah mandiri dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang nyata adalah Negara Utama. Menurutnya, warga negara merupakan unsur yang paling pokok dalam suatu negara yang diikuti dengan segala prinsip-prinsipnya (mabadi) yang berarti dasar, titik awal, prinsip, ideologi, dan konsep dasar. Keberadaan warga negara sangat penting karena warga negaralah yang menentukan sifat, corak serta jenis negara. Menurut Al Farabi, perkembangan dan/atau kualitas negara ditentukan oleh warga negaranya. Mereka juga berhak memilih seorang pemimpin negara yaitu seorang yang paling unggul dan paling sempurna diantara mereka.

Negara Utama dianalogikan seperti tubuh manusia yang sehat dan utama karena secara alami pengaturan organ-organ dalam tubuh manusia bersifat hierarkis dan sempurna. Ada 3 klasifikasi utama: 
1. Jantung. Jantung erupakan organ pokok karena jantung adalah organ pengatur yang tidak diatur oleh organ lain. 
2. Otak. Bagian ini selain bertugas melayani jantung juga mengatur organ-organ bagian di bawahnya yakni organ peringkat ketiga, seperti hati, limpa, dan organ-organ reproduksi. 
3. Organ bagian ketiga. Organ terbawah ini hanya bertugas mendukung dan melayani organ dari bagian atas.

Pemikiran Al Farabi tentang Pemimpin Dengan prinsip yang sama, seorang pemimpin negara merupakan bagian yang paling penting dan paling sempurna di dalam suatu negara. Menurut Al Farabi, pemimpin adalah seorang yang disebut sebagai filsuf yang berkarakter Nabi yakni seorang yang mempunyai kemampuan fisik dan jiwa (rasionalitas dan spiritualitas). Disebutkan adanya pemimpin generasi pertama (the first one-dengan segala kesempurnaannya-Imam) dan karena sangat sulit untuk ditemukan (keberadaannya) maka generasi kedua atau generasi selanjutnya sudah cukup, yang disebut sebagai (Ra'is) atau pemimpin golongan kedua. Selanjutnya Al Farabi mengingatkan bahwa walaupun kualitas lainnya sudah terpenuhi namun kualitas seorang filsuf tidak terpenuhi atau tidak ambil bagian dalam suatu pemerintahan maka Negara Utama tersebut bagai 'kerajaan tanpa seorang Raja'. Oleh karena itu, Negara dapat berada diambang kehancuran. Pemikiran Al Farabi tentang Teori Kenabian Teori ini sekaligus digunakan untuk merespon pendapat Ibnu al-Rawandi yang lebih tegas penolakannya terhadap kenabian dan Al Razi yang kritik dan penolakannya pada kenabian masih kontroversi dan diragukan. Menurut Al Farabi, nabi dan filosof sama-sama mampu berkomunikasi dengan 'aql fa'al (akal ke 10) yang tidak lain adalah Jibril karena keduanya sampai pada tingkat 'aql mustafad. Hanya keduanya memiliki perbedaan: Nabi mampu berkomunikasi dengan akal ke-10 tanpa melalui latihan khusus karena mendapat limpahan dari Tuhan berupa kekuatan atau daya suci (quwwah qudsiyyah) yang di dalamnya ada daya imaginasi luar biasa berupa al-hads (semacam insight khusus). Sementara filosof harus melalui latihan yang serius dan cukup lama. Dengan demikian, Nabi lebih tinggi tingkatannya daripada filosof dan bisa juga dikatakan bahwa setiap Nabi pasti seorang filosof tapi seorang filosof belum tentu seorang Nabi.

0 komentar:

Post a Comment