Sunday, 21 February 2016

Hidup Untuk Dunia Akhirat


Setiap pribadi Muslim senantiasa berkeyakinan diri bahwa kehidupan di alam dunia hanyalah sementara. Kehidupan yang sebenar-benarnya lagi kekal adalah kehidupan di alam akhirat kelak. Oleh karena itu, segala aktifitas atau pun kegiatan yang menjadi rutinitas sehari-hari, termasuk giat dalam bekerja, harus diniatkan betul-betul  karena semata-mata hanya karena Allah Swt.

Hal tersebut mestilah dibuktikan dengan rangkaian efektifitas kerja keras  sebagai landasan dalam meraih kesuksesan dunia dan akhirat, termasuk giat bekerja,  jujur, serta pekerjaan tersebut tidak melalaikan dari pada mengingat sang Khalik, Allah Swt. Kita semua, kapan dan dimana saja berada, sang maha Pencipta akanselalu mengawasi apa yang selalu kita perbuat.

Sebagai orang Islam kita mestilah yakin, bahwa kehidupan bukanlah hanya di dunia, Melainkan ada kehidupan akhirat. Kita tidak dapat mementingkan satu sisi kehidupan saja, apakah itu dunia atau sebaliknya yaitu Alam Akhirat. Misalnya, kita beribadah terus menerus sehingga melupakan ibadah kepada Allah Swt. Allah Swt telah banyak menerangkan dalam firman-firmannya tentang keharusan bekerja dengan giat. Bahkan seorang muslim sekalipun, sangat dilarang Allah untuk berpangku tangan menunggu datangnya keajaiban dari langit.

Berbicara mengenai Prinsip kerja atau Etos kerja muslim, maka akan kita dapatkan bahwa Allah sendiripun tidak menyukai hamba-hambanya yang hanya berpangku tangan menunggu belas kasihan saudaranya, apa lagi lebih menyibukkan diri dalam beribadah, namun meninggalkan kegiatan dunia yang seharusnya ia penuhi juga sebagai sarana ibadah kepada sang pencipta.

“Dan carilah (pahala) negeri akhiratdengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu didunia dan berbuatlah baiklah(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dibumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (Q.S Al-Qasas: 77)

Bila ditafsir dengan pemahaman standar manusia, Allah menerangkan bahwa keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat mestilah dipahami setiap pribadi muslim dengan baik.

Allah Swt memerintahkan orang-orang yang beriman agar dapat menciptakan keseimbangan antara usaha untuk memperoleh keperluan Duniawi dan keperluan Ukhrawi. Tidak mengejar salah satunya dengan cara meninggalkan yang lain. Renungkanlah Rasulullah Muhammad SAW sangat mencela orang-orang yang hanya mengejar akhirat dengan meninggalkan duniawi. Apalagi menjadi beban orang lain dalam masalah nafkah.

Nabi Muhammad SAW pernah mendapati seorang anak muda yang selalu berada di Mesjid untuk beribadah . Kemudian beliau bertanya kepada para sahabat, “Siapakah yang member nafkahnya?,” para sahabat menjawab, “Ayahnya wahai Rasulullah”, beliau melanjutkan perkataan bahwa ayahnya lebih baik daripada anaknya. Diasemestinya mencari nafkah sehingga tidak menjadi beban orang lain.

Manusia dituntut untuk melakukan kompromi dalam memenuhi kepentingan keduanya. Artinya, memenuhi kepentingan fisik dalam batas-batas yang diperkenankan oleh Allah Swt.

Dalam Islam menentang pemenuhan dorongan fisik. Islam menyerukan penyeiringan dorongan tubuh dan jiwa, serta menyelaraskan aspek materiil maupun moriil dalam tubuh manusia itu sendiri.

Imam Ahmad BinHanbal adalah seorang ulama besar yang sangat menjaga hidupnya agar tidak bergantung kepada pertolongan orang lain. Tersebut dalam riwayatnya , beliau hidup sangat sederhana. Beliau dengan senang hati bersusah payah mencapai etos kerja dalam memenuhi kebutuhannya. Beliau tidak suka berpangku tangan mengharap belas kasihan dan pemberian orang lain. Malah lebih suka dengan hasil keringat sendiri dalam menghasilkan apa yang dikerjakan. Sekalipun Imam Ahmad menjadi kuli, beliau tetap berpuas diri mencapai hakekat pekerjaan yang muli, dari pada berpangku tangan mengharap rezeki yang datang dari langit, begitu sederhananya ulama besar ini.
Mengutip hikmah diatas setiap insane muslim yang beriman harus arif dan bijaksanalah agar porsi alam dunia serta akhirat dapat terus dibarengi  dan menjadi jalan ibadah kepadanya sang khaliq.*

0 komentar:

Post a Comment