Setiap pribadi Muslim senantiasa berkeyakinan diri bahwa
kehidupan di alam dunia hanyalah sementara. Kehidupan yang sebenar-benarnya
lagi kekal adalah kehidupan di alam akhirat kelak. Oleh karena itu, segala
aktifitas atau pun kegiatan yang menjadi rutinitas sehari-hari, termasuk giat
dalam bekerja, harus diniatkan betul-betul karena semata-mata hanya
karena Allah Swt.
Hal
tersebut mestilah dibuktikan dengan rangkaian efektifitas kerja keras
sebagai landasan dalam meraih kesuksesan dunia dan akhirat, termasuk giat
bekerja, jujur, serta pekerjaan tersebut tidak melalaikan dari pada
mengingat sang Khalik, Allah Swt. Kita semua, kapan dan dimana saja berada,
sang maha Pencipta akanselalu mengawasi apa yang selalu kita perbuat.
Sebagai
orang Islam kita mestilah yakin, bahwa kehidupan bukanlah hanya di dunia,
Melainkan ada kehidupan akhirat. Kita tidak dapat mementingkan satu sisi
kehidupan saja, apakah itu dunia atau sebaliknya yaitu Alam Akhirat. Misalnya,
kita beribadah terus menerus sehingga melupakan ibadah kepada Allah Swt. Allah
Swt telah banyak menerangkan dalam firman-firmannya tentang keharusan bekerja
dengan giat. Bahkan seorang muslim sekalipun, sangat dilarang Allah untuk
berpangku tangan menunggu datangnya keajaiban dari langit.
Berbicara
mengenai Prinsip kerja atau Etos kerja muslim, maka akan kita dapatkan bahwa
Allah sendiripun tidak menyukai hamba-hambanya yang hanya berpangku tangan
menunggu belas kasihan saudaranya, apa lagi lebih menyibukkan diri dalam
beribadah, namun meninggalkan kegiatan dunia yang seharusnya ia penuhi juga
sebagai sarana ibadah kepada sang pencipta.
“Dan carilah (pahala) negeri akhiratdengan apa yang
telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu
didunia dan berbuatlah baiklah(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dibumi. Sungguh
Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (Q.S Al-Qasas: 77)
Bila
ditafsir dengan pemahaman standar manusia, Allah menerangkan bahwa keseimbangan
hidup antara dunia dan akhirat mestilah dipahami setiap pribadi muslim dengan
baik.
Allah
Swt memerintahkan orang-orang yang beriman agar dapat menciptakan keseimbangan
antara usaha untuk memperoleh keperluan Duniawi dan keperluan Ukhrawi. Tidak
mengejar salah satunya dengan cara meninggalkan yang lain. Renungkanlah
Rasulullah Muhammad SAW sangat mencela orang-orang yang hanya mengejar akhirat
dengan meninggalkan duniawi. Apalagi menjadi beban orang lain dalam masalah
nafkah.
Nabi
Muhammad SAW pernah mendapati seorang anak muda yang selalu berada di Mesjid
untuk beribadah . Kemudian beliau bertanya kepada para sahabat, “Siapakah yang
member nafkahnya?,” para sahabat menjawab, “Ayahnya wahai Rasulullah”, beliau
melanjutkan perkataan bahwa ayahnya lebih baik daripada anaknya. Diasemestinya
mencari nafkah sehingga tidak menjadi beban orang lain.
Manusia
dituntut untuk melakukan kompromi dalam memenuhi kepentingan keduanya. Artinya,
memenuhi kepentingan fisik dalam batas-batas yang diperkenankan oleh Allah Swt.
Dalam
Islam menentang pemenuhan dorongan fisik. Islam menyerukan penyeiringan
dorongan tubuh dan jiwa, serta menyelaraskan aspek materiil maupun moriil dalam
tubuh manusia itu sendiri.
Imam
Ahmad BinHanbal adalah seorang ulama besar yang sangat menjaga hidupnya agar
tidak bergantung kepada pertolongan orang lain. Tersebut dalam riwayatnya ,
beliau hidup sangat sederhana. Beliau dengan senang hati bersusah payah
mencapai etos kerja dalam memenuhi kebutuhannya. Beliau tidak suka berpangku
tangan mengharap belas kasihan dan pemberian orang lain. Malah lebih suka
dengan hasil keringat sendiri dalam menghasilkan apa yang dikerjakan. Sekalipun
Imam Ahmad menjadi kuli, beliau tetap berpuas diri mencapai hakekat pekerjaan
yang muli, dari pada berpangku tangan mengharap rezeki yang datang dari langit,
begitu sederhananya ulama besar ini.
Mengutip
hikmah diatas setiap insane muslim yang beriman harus arif dan bijaksanalah
agar porsi alam dunia serta akhirat dapat terus dibarengi dan menjadi
jalan ibadah kepadanya sang khaliq.*







0 komentar:
Post a Comment