Showing posts with label khazanah. Show all posts
Showing posts with label khazanah. Show all posts

Sunday, 24 April 2016

Peringatan Ketika Terjadi Kecelakaan di Jalan

Wolfe, Khazanah - ''Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri(angkuh)''(QS.Lukman:18).

Dalam Alqur'an disebutkan, ulah manusia penyebab berbagai kerusakan di muka bumi. Firman Allah: ''Dan apapun musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri''(QS. Asy-Syura:30). Juga disebutkan: ''telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali(kejalan yang benar)''(QS. Ar-Ruum:41). Kerusakan itu tentunya berbagai bentuk. Tak terkecualai berbentuk kecelakaan di jalan raya, yang selanjutnya menimbulkan kebinasaan(besar atau kecil) terhadap diri dan orang lain.

Kalau ditelusuri,(sebahagiannya) kecelakaan di jalan raya berbentuk peringatan langsung, agar manusia berhati-hati. Apalagi umumnya kecelakaan disebabkan oleh perilaku buruk manusia, yang tidak peduli terhadap aturan di jalan raya. Kalau dikelompok-kelompokkan, sebahagian orang tahu peraturan, tetapi tidak mau tahu dalam menggunakannya. Sebahagian yang lain tidak tahu kalau mereka tidak tahu. Akibatnya, terjadilah kecelakaan yang sama sekali tidak diharapkan.

Berprilaku buruk dimanapun, termasuk dijalan raya, merupakan suatu bentuk keangkuhan yang mengundang ketidak sukaan Allah. Allah tidak menyukai hamba-hambanya yang mencelakakan diri atau menimbulkan kecelakaan terhadap orang lain. Karena itu, sewajarnya setiap kita menjauhi perilaku-perilaku yang tidak disukai Allah. Dan Allah telah berjanji tidak akan memberikan hidayahnya kepada orang-orang yang suka berbuat ingkar atau pelanggaran.*

Saturday, 23 April 2016

Yuk! Jihad Ekonomi Islam

Wolfe, Khazanah - Tanpa kita sadari, dengan mudah kita meletakkan uang kepada toko dan kedai kafir musyrik, yang tak seaqidah dengan kita. Kita belanja, dan memborong berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Padahal, pemilik warung atau toko itu adalah kafir musyrik, yang sedikitpun mereka tak simpatik kepada agama kita.

Sebaliknya, jika kita makan dirumah makan kafir musyrik, dengan serta merta kita bertanya; ini rumah makan siapa? Siapakah pemilik rumah makan ini? Seakan, kita tak mau sedikitpun makan makanan yang tak halal. Sementara, ketika belanja dikedai kafir musyrik tadi, secara tak langsung kita memperkaya dan memperkuat ekonomi mereka. Dengan ekonomi kuat, maka agama mereka semakin kuat. Begini, saya ingin katakan bahwa kita sebenarnya belum berjihad dalam menegakkan aqidah islamiyah dari sisi ekonomi. Kita menganggap bahwa meletakkan uang harian dan belanja harian kepada kafir musyrik itu: di luar pantauan Allah. Padahal semua itu dicatat oleh malaikat.

Seharusnya, seratus juta lebih umat di Indonesia yang merdeka atas berkat rahmat Allah ini, tiga bulan saja belanja barang dan makanan di kedai muslim, serta menganggap ini adalah bagian dari jihad ekonomi, maka ekonomi dan perniagaan muslim akan meningkat. Sebaliknya, belanja kepada kafir musyrik itu secara tak langsung melumpuhkan ekonomi umat.**

Thursday, 21 April 2016

Usai Melahirkan Si Ibu dan Keluarga Masuk Islam

SINGKIL - Ketika hidayah datang menghampiri Sati Niyah (29), penduduk Pulau Palambak, Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil. Pola kehidupannya mulai berubah. Musibah yang dialaminya mengantar ia dan keluarganya mantap memeluk agama Islam, Selasa (19/4).

Musibah itu terjadi awal pekan ini, Sati Niyah yang setelah mengucapkan dua kalimat syahadat berganti nama menjadi Siti Aminah kehamilannya tidak normal, sehingga harus segera dioperasi. Namun, karena alasan ekonomi serta sumber daya manusia di keluarga itu, Sati tak tahu apa yang harus dilakukan.

Beruntung, petugas medis di puskesmas itu datang mendampinginya sehingga tindakan operasi di Rumah Sakit Subulussalam yang menjadi rujukan dapat dilakukan. Kegigihan petugas medis membantu walau berbeda keyakinan dengan Siti Aminah yang sebelumnya Nasrani membuat hatinya tergugah.

"Keluarga Siti Aminah tertarik masuk Islam, setelah merasakan ternyata dalam Islam tidak ada pandang bulu dalam menolong sesama," kata Mufrin Sekretaris Dinas Kesehatan Aceh Singkil, yang memfasilitasi prosesi pensyahadatan, Rabu(20/4). Menurut Mufrin, peristiwa itu patut menjadi bahan renungan bagi umat muslim.

Dengan menunjukan Islam sebagai agama kasih sayang, maka penganut agama lain akan tertarik dengan Islam."Ini jadi cerminan kita semua, keluarga Sati Niyah masuk Islam karena melihat dalam Islam tidak ada diskriminasi," ujarnya.

Bukan hanya Siti Aminah yang memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat yang dipandu Rahmadi dai perbatasan Pulau Banyak. Tapi diikuti Yusman (27), suami Siti Aminah serta tiga anaknya Fazri Ahmad, Rena Wati dan Refi Saputra. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, keluarga Siti Aminah mendapat bingkisan dari Dinas Sosial Aceh Singkil. Keluarga tersebut juga sebelum masuk Islam dikhitan oleh Tim Dinas Kesehatan Aceh Singkil.(SI)

Wednesday, 20 April 2016

Pemimpin Muslim Yang Adil

Wolfe, Khazanah - Di dunia ini penuh dengan prilaku seseorang yang bermacam-macam. Ada orang yang pintar, ada yang bodoh, ada kaya, ada miskin, ada yang taqwa, adapula yang fasiq, dan lainnya.

Andaikan manusia bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan, hal itu bisa menyebabkannya menjadi pongah, dan, boleh jadi, malah merendahkan dan menekan orang-orang yang lemah. Oleh sebab itu, agar terjadi harmoni, maka Allah memberi petunjuk agar para pemimpin berlaku adil. Yang harmoni penuh keseimbangan kehidupan ini akan terjaga jika dunia diisi oleh para pemimpin yang adil yang dipegang oleh orang-orang yang sholeh.

Karena hanya pemimpin yang sholeh yang mampu berbuat adil dan menjaga harmonisasi kehidupan secara keseluruhan. Keadilan yang digerakkan oleh mereka akan membimbing pada kebaikan, kebenaran, dan kedamaian. Pemimpin yang adil dan sholeh menjadi prasyarat karena tugas seorang pemimpin itu sejatinya sangatlah berat.

Sahabat Auf bin Malik ra, meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda, ''Jika kamu mau aku akan memberitahukan kepadamu tentang jabatan pimpinan. Auf bertanya, 'Apa itu ya Rasulullah?' ,Rasulullah menjawab, 'Pertama, adalah celaan; Kedua, penyesalan; dan Ketiga, siksaan pada hari kiamat. Kecuali bagi Seorang pemimpin yang berlaku adil dan tahu bagaimana ia berbuat adil pada kerabatnya'. (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al Bazzar dan Ath Thabrani).

Allah memberi penekanan khusus pada keadilan itu, sebagaimana tersurat pada Al-Qur'an surah An-Nahl ayat 90, "Dan Allah menyuruh (kamu) berlaku adil." Bahkan, kebencian terhadap suatu kaum, tidak boleh meninggalkan keadilan. ''Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berbuat tidak adil …" (QS. Al- Maidah: 8). Adalah Imam Al-Mawardi Rahimahullah memberi penjelasan tentang keadilan ini. Menurutnya,"Sungguh, yang membuat kehidupan dunia ini menjadi baik karena tegaknya prinsip keadilan yang senantiasa mengajak pada perdamaian, mendorong pada ketaatan, membangun peradaban, dan mengamankan kekuasaan.

Tidaklah sesuatu yang mempercepat rusaknya tatanan kehidupan daripada kezaliman. Sebab, kezaliman tidak akan berhenti pada satu titik ketika target tercapai, tetapi setiap bagiannya adalah kerusakan sampai benar-benar sempurna." Perlakuan yang adil bisa menyentuh nurani manusia yang menjadi muslim dan berjuang di jalan-Nya. Kisah tentang Khalifah Ali bin Abi Thalib mencari keadilan memberi pelajaran yang begitu berharga pada peradaban umat manusia yang mengedepankan akhlak.

Dalam Tarikh Dimasyqa, Ibnu 'Asakir meriwayatkan dari jalur Asy-Sya'bi, ia berkisah,"Suatu saat Ali bin Abi Thalib menemukan baju perangnya berada ditangan seorang lelaki Nasrani. Ali lalu melapor kepada hakim Syuraih untuk mencari keadilan. Asy-Sya'bi bertutur, Ali datang dan duduk disamping Syuraih. Lalu Ali berkata, 'Wahai Syuraih, sekiranya orang yang aku laporkan itu muslim tentu aku tidak duduk kecuali aku disampingnya, tetapi ia seorang Nasrani, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Jika kalian dan orang-orang non Muslim di jalan yang sama maka persempit jalan mereka dan kecilkan mereka sebagaimana Allah mengecilkan mereka tanpa harus menzaliminya. Ali lalu melanjutkan: baju perang ini milikku, dan aku tidak merasa menjual maupun memberikannya. Lalu Syuraih bertanya pada orang Nasrani, 'Apa tanggapanmu atas pernyataan Amirul Mukminin diatas?' Orang Nasrani itu menjawab, 'Baju ini milikku, dan menurutku Amirul Mukminin telah berbohong'. Lalu Syuraih menoleh kearah Ali dan bertanya, 'Wahai Amirul Mukminin, apakah Anda punya buki? 'Ali pun tersenyum seraya berkata, 'Aku tidak memiliki bukti.' Maka Syuraih pun memutuskan bahwa baju perang itu milik orang Nasrani, itu. As-Sya'bi melanjutkan kisahnya, Setelah itu Aliberanjak pergi lalu kembali lagi saat si Nasrani berkata, 'Aku bersaksi bahwa ini adalah hukum para Nabi.

Amirul Mukminin mengatakan kepada hakimnya, tetapi hakim tersebut memenangkanku. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, baju perang ini adalah milikmu wahai Amirul Mukminin. Aku menguntit rombongan pasukan yang engkau pimpin yang hendak menuju Shiffin, lalu baju itu jatuh dari untamu.

Mendengar kejujuran si Nasrani, Ali berucap, 'Jika kamu telah masuk Islam, maka baju itu milikmu.'Lalu baju perang yang sudah diberikan Ali kepada sang mualaf itu diangkat dan ditaruh diatas kudanya.Asy-Sya'bi melanjutkan, 'Orang yang melihatnya mengabarkan kepadaku, Ketika perang Nahrawan, ia turut memerangi kaum Khawarij bersama Ali'." Masyaa Allah, seorang kafir masuk Islam karena menyaksikan betapa keadilan dijunjung tinggi, tidak peduli siapa yang melaporkan.

Dan Syuraih, sebagai hakim, telah bertindak adil dan tegas, tidak peduli siapa yang melapor. Independensinya sebagai hakim sangat dijaga, dan itu sangat dihargai oleh Amirul Mukminin yang melaporkan baju perangnya diambil oleh si Nasrani tanpa disertai bukti-bukti yang kuat. Non Muslim yang Adil "Siapa saja yang mampu dan dipercaya rakyat, pemimpin yang adil meski itu non-Muslim tapi jujur,itu lebih baik daripada pemimpin Muslim tapi zalim.

Sebelumnya, dari kalangan liberalis dan sekularis juga telah"menyanyikan" judul lagu yang sama. Pernyataan tersebut jelas-jelas tidak adil dan keluar dari logika yang lurus. Keadilan dan kezaliman tidak bisa disandingkan. Ia merupakan kata yang berlawanan. Kalau mau adil, mestinya, ''Pilih mana pemimpin Muslim yang adil atau pemimpin non-Muslim yang adil?" Dan Allah melarang orang-orang beriman memilih pemimpin yang kafir (Lihat QS. Al-Maidah; 51)

Friday, 15 April 2016

Bisnis Rasulullah Penuh Kejujuran

Wolfe, Khazanah - ''Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya dan hanya kepadanyalah kamu(kembali setelah) dibangkitkan.''(QS: Almulk: 15).

Semasa hidupnya, Rasulullah SAW terkenal sebagai pekerja keras sejak usia belia. Bukan hanya pernah menjadi pengembala, tetapi juga berbisnis. Sebagaimana disebutkan dalam sejarah, tetapi juga berbisnis. Sebagaimana disebutkan dalam sejarah, Rasulullah pernah berdagang dengan membawa barang-barang milik Khadijah radhiyallahu'anha ke Negeri Syam. Beliau senantiasa mengutamakan kejujuran dalam bernisnis, sehingga setiap pembeli merasa senang.

Berbeda dengan sebagian pedagang, yang lebih mengutamakan keuntungan uang yang banyak walaupun harus mengorbankan nilai kejujuran. Sesungguhnya mengabaikan kejujuran adalah suatu kerugian diri yang amat besar karena telah sengaja melupakan Allah sekaligus melupakan kematian. Dalam keadaan demikian, hawa nafsu untuk berbuat curang semakin tak akan terkendali.

Padahal Allah mendorong hamba-hambanya untuk mencari rezeki yang halal dimuka bumi ini, dan tetap mengingatnya. Disebutkannya dalam Al-qur'an: ''Apabila shalat telah ditunaikan, bertebaranlah kalian dimuka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.''(QS. Al Jumu'ah:10).(SI)

Sunday, 10 April 2016

Jangan Menipu Diri Sendiri

Wolfe, Khazanah - Bagi orang yang gemar menipu, akan merasa senang bila telah berhasil melakukan perbuatannya dikira orang lain telah tertipu. Padahal dirinya sendirilah yang telah tertipu oleh diri sendiri.

Hal ini dapat difahami dari sebuah kisah dimasa Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah pergi ke pasar hendak membeli buah. Lantas beliau memilih sebungkus buah-buahan. Saat dimasukkan tangannya ke dalam bungkusan buah itu dan mendapati buah-buahan basah, beliau bertanya, beliau bertanya, wahai penjual buah, kenapa buah ini basah?

Penjual buah itu menjawab, Altu terkena hujan, ya Rasulullah. Lalu rasul berkata, Mengapa tidak kamu taruh di atas agar terlihat langsung oleh pembeli?kemudian beliau mengatakan, Siapa saja yang menipu, ia tidak termasuk golongan kami(HR At Tirmidzi).

Jelaslah betapa ruginya penipu. Hanya karena mengharapkan uang sedikit, ia tidak dianggap sebagai pengikut Nabi. Bahkan, lazimnya orang-orang yang gemar menipu dalam hidupnya. Dalam setiap kesempatan akan terbetik niat untuk mengambil kesempatan untuk menipu demi harta duniawi, tak peduli banyak orang terzalimi.

Friday, 1 April 2016

Manusia Sebagai Khalifah Menjaga Alamnya

Wolfe, Khazanah - Manusia yang ditunjuk sebagai Khalifah diatas muka Bumi ini adalah suatu amanah dari sang Khaliq, Gunung saja tak mampu.

Menurut Yusuf Al-Qaradhawi, penamaan surat-surat dalam Al-qur'an dengan mengambil nama hewan, seperti Al-Baqarah(Sapi Betina), Al-an'am(Binatang ternak), Al'adiyat(Kuda), an-nahl(semut), dan al-angkabut(Laba-laba).

Sedangkan nama tumbuh-tumbuhan, seperti At-tin(pohon tin), pertambangan misalnya Al-Hadid(besi), atau nama alam lainnya seperti al-fajri(waktu fajar), adz-Dzariat(angin yang menerbangkan, dan asy-Syams(Matahari), semua itu adalah isyarat agar manusia sadar, bahwa dirinya terikat dengan Alam sekitarnya. Sehingga manusia tidak lalaimenjalankan kewajibannya menjaga kelestarian alam.

Betapa besar perhatian islam terhadap alam. Sebuah Hadist menyatakan, ''Barang siapa memotong pohon Bidara, Niscaya Allah akan mencelupkan kepalanya kedalam api Neraka.''(HR. Abu daud).

Sebagian ulama fiqih memahami hadis ini sebagai larangan menebang pohon Bidara di sekitar kota Mekkah dan Madinah. Tapi menurut Yusuf Qaradhawi, kalimat tersebut ditafsirkan sesuai dengan teks lahirnya yang mengandung makna umum. Sehingga dengan demikian diperoleh suatu kesimpulan, bahwa Islam melarang menebang pepohonan secara sia-sia.

Pentingnya memelihara Alam, tercermin dalam pidato Abu Bakar ra di depan angkatan perang kaum Muslimin saat akan berangkat untuk menggempur raja Ghassani yang telah memerintahkan pembunuhan atas utusan nabi Muhammad SAW di masa-masa akhir hidupnya. Abu Bakar dalam pidatonya melarang pembunuhan terhadap anak-anak dan orang tua, merusak dan membakar pohon kurma. Dan menebang Pohon-pohon yang berbuah.

Dalam beberapa Allah menyatakan bahwa seluruh langit dan bumi serta makhluk didalamnya bertasbih memuji Allah SWT, Seperti terungkap dalam Al-qur'an(Qs. Annur:41; QS Al-Hadis:1; QS.Shaad:18). Manusia harus senantiasa menghormati alam, karena ia adalah Makhluk Allah yang senantiasa bertasbih kepadanya.

Manusia harus mengiringi alam bertasbih memuji Allah Swt, antara lain memelihara kelestarian alam dan mengarahkannya ke arah yang lebih baik(islah). Dan bukannya melakukan kerusakan di bumi(fasad fil ardl). Islam membolehkan pengelolaan bumi dan pemanfaatannya dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlangsungannya.*

Friday, 25 March 2016

Mengidolakan Rasulullah SAW

Wolfe, Khazanah - Dalam hidup setiap insan yang sempurna pasti diberkahi nafsu oleh Allah. Namun nafsu yang bagaimanakah yang diberkahi?, atau nafsu yang bagaimanakah yang dirahmati oleh Allah?, tentunya pasti nafsu yang sesuai dengan tuntunan risalah yang disampaikan Allah SWT melalui Utusannya nabi Muhammad SAW.

Mengidolakan sang utusan Allah SAW atau Rasulullah SAW adalah ajaran yang mutlak bagi para orang tua kepada anak serta cucunya. Karena si orang tua yang mendapat anak(anak adalah titipan Allah) sangat diwajibkan menekankan kepada si anak agar mengidolakan Muhammad SAW.

Seperti contoh sunnah rasulullah SAW yang diriwayatkan melalui hadistnya bahwa ''bila anak-anakmu telah berumur 7 tahun perintahkanlah ia untuk Shalat, dan bila umur 10 tahun anak tidak menjalankan Shalat Fardhu wajib pukullah ia''.

Menghayati hadist riwayat tulisan diatas jelas, betapa tegas dan betapa sangat jangan terlalu memanjakan anak dalam berleha-leha atau lalai dalam bermain saja, namun justru melatih si anak untuk tunduk selalu mengingat Allah SWt selalu di dalam Shalatnya, sungguh hidup kita diciptakan tidak untuk main-main saja.

Betapa pentingnya menjaga shalat fardhu lima waktu Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya. Shalat yang merupakan tiang agama adalah juga merupakan akses diterimanya amal-amal yang lain bila kita kerjakan. Apabila shalatnya belum baik, amal sebesar apapun sebanyak apapun, belum tentu akan mendapat poin bagus. Peliharalah Shalatmu, dirikanlah shalatmu untuk mengingat Allah, jadikanlah Shalat dan sabar sebagai penolongmu, tanpa Shalat jangan harap dapat pertolongan.

Maha suci Allah dengan rahmat dan hidayahnya, Tahukah kamu rahmat itu apa?, Rahmat yang tujuh ayat yang diulang-ulang dalam Shalat.*



Foto: infounik.com

Thursday, 17 March 2016

Bekerja Dengan Penuh Keikhlasan


Wolfe, Khazanah - Problematika sosial yang kita hadapi saat ini adalah masalah keikhlasan. Patut di renungi diri, sudah ikhlaskah saya bekerja?, atau hanya bekerja sekedar untuk mencari gaji.

Sehingga, etos kerja identik dengan sekedar mendapatkan uang dan penghasilan semata. Tanpa dihayati dan dicerna oleh sanubari. Status sebagai pekerja kemudian disandang laksana sebuah robot.

Semakin canggih dunia Ilmu Pengetahuan Ilmiah(Sains) dan teknologi, semakin cenderung berhadapan dengan produktifitas. Hasil kerja yang maksimal, dengan semakin efisiensi tenaga yang semakin minim. Artinya, dunia kerja hanya mementingkan hasil, tanpa memperhatikan nilai semangat keikhlasan dari jiwa para pekerja dan pengalaman.

Dalam tradisi keislaman, kita dihadapkan untuk mengukir prodiktifitas dengan ikhlas. Ikhlas yang bermakna penuh kerelaan semata-mata karena Allah dalam berinteraksi beraktifitas apa saja. Dan juga bermaknamenyatunya jiwa raga pekerja dengan materi kerja yang dilakoninya. Misalnya para pekerja pembuat jalan atau jembatan, hendaknya bukan hanya sekedar siap, tapi berusaha menyatukan perasaannya dengan pengguna jalan dan jembatan tersebut. Bukan sekedar bekerja, mendapatkan gaji dan hasil. Tanpa menghayati kualitas proyek yang dikerjakan.

Kini, kita menyaksikan para pekerja hanya untuk kerjaan. Job for job. Bekerja untuk pekerjaan. Bekerja hanya untuk berpenghasilan. Padahal, jika ditambah dengan spirit keikhlasan, maka disana akan lahir keberkahan. Berkah itu lahir dari kristalisasi kesungguhan bekerja dan keikhlasan yang maksimal. ''Man jadda wajadda''( barang siapa siapa bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya) begitulah pepatah arab mengatakan kendati bukan hadits tapi begitu selaras dengan sunatullah.*

Tuesday, 15 March 2016

Begini Dampak Narkoba Menurut Al-Qur'an

Wolfe Khazanah - Setahun terakhir ini begitu maraknya berita-berita Narkoba yang disuguhkan sejumlah media, baik media cetak maupun elektronik di Negeri kita tercinta ini.

Berita maraknya pemakaian Narkoba yang tertangkap terutama dikalangan remaja. Akibat dampak pemakaian obat-obatan terlarang tersebut, banyak orang yang mejadi korban, kematian maupun hidup tanpa harapan masa depan, yang hanya menjadi beban orang di sekelilingnya.

Kendati para pengedar obat terlarang tersebut telah banyak di tangkap dan divonis hukuman, namun keadaan nampaknya belum dapat menggembirakan kita semua.

Adanya reaksi dari berbagai kalangan baik itu kalangan pemerintah atau Masyarakat, mulai banyak mengkampanyekan perang terhadap barang haram ini. Hal ini dibuktikan banyaknya adanya kegiatan pembinaan dan penyuluhan terhadap pelajar SMP dan SMA yang rentan akan tren pemakaian Narkoba. Serta di kibarkan juga syiar dengan membuat spanduk-spanduk dijalanan yang berbunyi akan perang terhadap Narkoba.

Apabila Narkoba tidak diperangi, maka akan menjadi konsumsi para remaja harapan bangsa. Bayangkan, apabila hal tersebut melanda Generasi muda Negeri kita Indonesia tercinta, maka Negeri ini akan kehilangan Generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa pada masa depannya.

Obat-obatan terlarang selain merusak jasmani, juga merupakan salah satu hall yang dilarang oleh Allah SWT. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an yang artinya: ''Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya(meminum) khamar, berjudi, (berkorban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan Syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan''.(QS: Al-Maidah:90).

Pada ayat tersebut bila kita hayati pada kata ''Khamar'', yang merupakan padanan dari Narkoba, yang juga disejajarkan dengan judi, sesaji untuk berhala, serta panah-panah ramalan dalam hal ini adalah undian, semuanya itu dikategorikan Allah SWT dengan rijs. Dan Rijs adalah perbuatan yang keji serta sangat nista dan merupakan amalan Syaitan. Karena semua pekerjaan tersebut oleh Allah SWT diperintahkan untuk di jauhi, yang sesuai dengan firmannya dalam surat Al-Maidah ayat 90 pada kata ''fajtanibuuh'', maka jauhilah atau hindarilah. Begitu pula mengenai hukum penggunaan Narkoba, telah dijelaskan oleh para Ulama Madzhab. Sehingga dalam istilah para Ulama, Narkoba ini masuk dalam pembahasan mufattirot(pembuat lemah) atau mukhoddirot(pembuat mati rasa).

Pada dasarnya obat-obat terlarang tersebut pada dosis tertentu dapat dijadikan obat, seperti halnya obat pembius, akan tetapi penggunaannya dipandang salah apabila pemakaiannya diluar indikasi medis. Seperti, apabila pemakaian yang terus menerus menyalahi aturan, akan menimbulkan ketergantungan dan kehilangan keseimbangan akal, gangguan jiwa dan bahkan pula kematian, hal inilah yang sering terjadi.

Peran Guru dan Orang tua serta Masyarakat juga penegak hukum sepakat mempersempit ruang gerak pengedar alias pebisnis kotor barang haram itu.*




foto:Mushollarapi.blogspot.com

Thursday, 10 March 2016

5 Hal Ciri Pendusta Agama Yang Harus Dihindari Dalam Diri

Wolfe Islami - Kehidupan kita umat Muslim tak pernah luput dari kekhilafan, dosa-dosa kecil, dan kurang menyadari akan kesalahan dan sifat pribadi akibat pembiasaan yang terus menerus. Intinya setiap Muslim sangat diharapkan saling nasehat menasehati dan saling ingat mengingatkan dalam menjalani kehidupan dunia ini.

Dalam Al-qur'an Surat Al-ma'un disebutkan bahwa Allah SWT mengenalkan kepada Rasulullsah Muhammad SAW ada lima ciri-ciri utama seseorang yang mendustakan Agama yaitu mendustakan akan balasan Allah yang patut kita hindari dan merenungkan apakah kelima Golongan Sifat ini masuk kedalam kategori diri pribadi, dan Apabila terdapat salah satunya, hendaknya cepat-cepat memohon ampun kepada Allah, dan berupaya memperbaiki diri serta menjauhi golongan sifat yang mendustakan Agama Allah SWT.

Adapun kelima Sifat Golongan yang mendustakan Agama Allah SWT tersebut di atas yakni:

Pertama, Golongan yang membiarkan anak yatim terlantar. Tidak peduli dengan kondisi dan masa depan anak Yatim yang miskin.

Kedua, tidak memotivasi dirinya dan orang lain untuk memberi makan kepada orang yang memerlukan makanan, seperti anak-anak Yatim yang kurang gizi dan tak mampu mencari nafkah.

Ketiga, Mereka yang Shalat dengan kemunafikan. Mereka hanya shalat dengan gerakan tubuh dan ucapan, karena Shalatnya tidak dihayati sehingga, Shalatnya tak menembus hati sanubarinya. Akibatnya, Shalatnya tak mampu memberikan perubahan positif pada dirinya.

Keempat, mereka yang 'Riya' dalam beribadah. Tidak serius dan hanya menjadikan ibadahnya itu sebatas pamer dilihat orang lain terlihat Shaleh dan ingin dipuji. Sehingga bila tak dilihat orang lain, maka ia tak berbuat kebajikan.

Kelima, mereka yang melarang dirinya dan terkadang melarang orang lain untuk memberikan bantuan yang bermanfaat buat orang yang membutuhkan.

Itulah lima hal sifat akan pendusta Agama atau pendusta balasan Allah SWT yang patut dihindari dalam diri pribadi. Dalam hidup teman adalah cermin, jadi bercerminlah, biarkan teman yang memberikan penilaian terhadap diri, namun tentunya teman yang baik. Teman yang menuntun ke jalan Rahmatan Lilalamin, teman yang membawa ke rahmat Allah SWT. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari kelima golongan yang disebutkan diatas. Aminn!!



Foto: metiherawati.com

Tuesday, 8 March 2016

Memaknai Hikmah Fenomena Gerhana Matahari


Wolfe Islami - Akan terjadinya Fenomena Gerhana Matahari Total(GMT) yang di perkirakan Ahli Astronomi(GMKG) di beberapa Daerah Wilayah Indonesia, mengundang banyak para Wisatawan Asing dan lokal untuk menyaksikan.

Dalam Islam makna Gerhana Matahari adalah jika seseorang melihat Gerhana, maka hendaklah ia melaksanakan Shalat Gerhana sebanyak dua rakaat. Dari Al Mughiroh bin Syu'bah, Rasulullah Shalallahu'alai Wasallam bersabda:
''Matahari dan Bulan dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo'alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang(berakhir)''.

Ada baiknya menyikapi tanda-tanda kekuasaan Allah akan sejajarnya Bulan dengan Matahari, dengan rasa syukur, karena ini fenomena alam besar dari Allah SWT.

GMT terjadi karena bulan sejajar dengan Matahari, GMT mesti dimaknai bahwa kekuasaan Allah SWT yang terjadi hanya beberapa menit saja yang patut disyukuri.

Inti dari perwujudan syukur dari GMT tersebut adalah dengan melaksanakan shalat Gerhana secara bersama-sama.

selama sepekan ini, Media begitu gencarnya memberitakan akan kedatangan Fenomena Gerhana Matahari yang diperkirakan 300 tahun sekali. Antusias ribuan Masyarakat di salah satu daerah Bangka Tengah untuk melihat langsung Fenomena Alam ini sangat tinggi peminat, Musik religius menghiasi malam di kawasan pantai desa terentang, Bangka Tengah saat ini.

Kawasan Bangka Tengah dan sejumlah daerah lainnya yang terkena GMT, seakan sudah standby menyaksikan simbol waktu terbesar tersebut sejajar.



Sumber Foto: utakatikotak.com

Sunday, 6 March 2016

Menghiasi Islam Dengan Aklaq Terpuji

Wolfe Islam - ''Tidaklah pantas ia mengaku dirinya Islam, tetapi tidak mempunyai sifat pemurah''.

Akhlaq yang baik merupakan cermin dari keimanan. Setiap keimanan yang ada dalam diri manusia, mempunyai dua karakter iman yang berbeda, yaitu iman yang kuat dan Iman yang lemah.

Diantara kedua iman tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar di setiap perbuatan yang dilakukannya. Termasuk didalamnya yaitu akhlaq setiap insan.

Akhlaq manusia akan mencerminkan bentuk kepribadian seseorang kepada orang lain dan kita akan mengetahui akhlaq yang ada dalam dirinya, apakah orang tersebut baik atau buruk.

Jika ia baik berarti ia termasuk golongan orang yang taat kepad ajaran agama Islam, namun sebaliknya jika ia buruk, maka ia termasuk golongan orang yang tersesat dan merugi ketika menjalani kehidupan dunia maupun kehidupan di akhirat kelaq.

Sebagai umat Islam dan orang yang beriman, hendaklah diri kita senantiasa mengabdikan diri kepada Allah dengan melakukan amalan Shaleh. Semakin terus beramal Shaleh maka akan menjadikan diri kita mempunyai kepribadian akhlaq yang baik.

Islam mewajibkan umatnya menghiasi ajaran agama Islam dengan akhlaq yang baik. Sebagimana Rasulullah SAW bersabda yang artinya: ''Sesungguhnya Allah SWT memurnikan agama ini untuk dirinya, dan tidaklah layak bagi agama kalian kecuali sifat pemurah dan akhlaq yang baik. Karena itu hiasilah agama kalian dengan kedua sifat tersebut(HR. Thabrani).

Makna hadist diatas dapat kita renungkan bersama, bahwa tidaklah pantas ia mengaku dirinya islam, tetapi tidak mempunyai sifat pemurah dan akhlaq yang baik. Karena dalam agama islam, sifat pemurah merupakan amalan yang baik dan harus senantiasa di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti membelanjakan harta di jalan Allah dengan berzakat, bersedekah, berinfak akan menjadikan diri mereka sebagai hamba Allah yang selalu bersyukur kepadanya.

Akhlaq yang baik juga merupakan tujuan diturunkan agama Islam di muka Bumi agar manusia tidak tersesat dan selalu berada di jalan yang lurus.

Dalam mengamalkan ajaran agama Islam, kit a harus memahami bahwa akhlaq yang mulia tanpa didasari suatu keyakinan agama yaitu agama Islam, maka akan menghasilkan akhlaq yang kosong, sebab sikap tersebut tidak memberikan akibat kebaikan bagi seseorang dihari kemudian.

Sedangkan keimanan tanpa akhlaq yang mulia juga menjadi iman yang kosong, sebab akhlaq merupakan nilai dalam keimanan.

Akhlaq mulia hendaknya dilakukan berdasarkan iman kepada Allah, sehingga akhlaq mulia merupakan asset kebahagiaan di akhirat kelak. Namun sebaliknya jika akhlaq mulia tanpa iman sebagaimana yang dilakukan orang-orang kafir, maka akhlaq tersebut tidak berguna bagi dirinya di akhirat kelak.

Ad beberapa akhlaq terpuji yang harus kita lakukan dalam menghiasi agama islam menjadi agama yang rahmatan lil 'alamin. Yakni:

Akhlak Kepada Allah
Sebagai umat Islam kita harus benar-benar memahami bahwa manusia hidup dimuka bumi ini hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah. Untuk menggapai tujuan mengabdikan diri kepada Allah haruslah setiap insan mempunyai keimanan dalam dirinya, maka dengan iman tersebut mudah-mudahan ia mampu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Dalam ajaran agama Islam, Akhlaq kepada Allah adalah sebagai landasan yang paling utama untuk dikerjakan dengan baik, adapun yang termasuk aklak kita kepada Allah adalah, dengan senantiasa mengerjakan rukun Islam dan tidak mempersekutukan Allah dengan Makhluk yang lain. Dengan Demikian kita akan termasuk golongan orang yang sukses dalam mengaplikasikan Akhlaq kita kepada Allah.

Aklak Kepada Rasulullah SAW
Kita memahami bahwa nabi muhammad SAW di utus Allah dimuka Bumi ini hanya untuk menyempurnakan Aklak Manusia. Sebagai umat Islam kita harus mengikuti dan mentaati rasul dengan menjadikan rasulullah sebagai ''Uswatun Hasanah'' dalam kehidupan yang kita jalani ini agar selalu berada dijalan yang lurus.

Mengapa demikian? Karena hal ini menjadi salah satu bagian penting dari Akhla kepada rasul, bahkan Allah akan menempatkan orang yang mentaati Allah dan rasulnya kedalam derajat yang tinggi dan mulia. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: ''Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang Shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya(QS.An-Nisa:69).

Akhlak Kepada Al-Qur'an
Al-qur'an adalah kitab suci agama Islam untuk seluruh umat muslim di seluruh dunia dari awal diturunkan hingga sampai saat ini dan sampai hari kiamat kelak.

Untuk menjalani kehidupan sehari-hari bahwa diri kita mempunyai akhlaq yang baik terhadap Al-qur'an, kita harus senantiasa menjadikan Al-qur'an sebagai petunjuk hidup agar kita tidak tersesat selamanya. Untuk itu manusia yang beruntung di Dunia maupun di Akhirat adalah manusia yang senantiasa membaca Al-qur'an dan mengamalkan isi kandungan Alqur'an tersebut.

Akhlak Kepada Orang Tua
Salah satu amalan yang paling baik dalam ajaran agama Islam adalah berbakti kepada kedua orang tua. Adapun yang termasuk Akhlaq yang baik kepada orang tua adalah selalu berbuat baik kepadanya, tidak pernah mencaci maki, selalu mendo'akannya dan tidak pernah memukul atau membunuh kedua orang tuanya. Inilah sebagai bukti bahwa diri kita adalah orang yang sayang kepada orang tua kita. Jika kita berbuat baik kepada orang tua berarti kita termasuk orang yang menghiasi agama islam dengan Akhlak yang terpuji.

Nah, jadi Agama Islam sebagai agama yang paling murni disisi Allah. Untuk itu kita harus menjaga kesucian Agama Islam dengan menjalankan amalan yang sudah di jelaskan tersebut. Semoga kita semua termasuk golongan umat Nabi Muhammad SAW yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah, agar bisa meraih kebahagiaan hidup di Dunia dan di Akhirat Kelak.*

Mendeteksi Sehatnya Hati Sentral Jiwa Manusia

Wolfeislami - ''Mereka yang mengenal hatinya, maka ia akan mengenal Rabbnya. Namun disayangkan, saat ini banyak manusia yang tidak mengenal hatinya sendiri.''

Hati yang bersih dan suci merupakan tanda keimanan seseorang. Tidak mungkin ia dikatakan sebagai orang yang beriman kepada Allah, namun hatinya masih kotor atau dipenuhi dengan niat buruk dan akhirnya hatinya menjadi mati.

Jika hati sudah mati, maka untuk mengingat Allah pun tidak akan bisa. Kemudian hati mereka hanya ingin mengikuti hawa nafsu syaitan yang akan menjerumuskan mereka kedalam perbuatan dosa dan mereka bangga dengan perbuatan tersebut, lalu akhirnya mereka akan menjadi orang yang kafir kepada Allah serta orang yang merugi dalam menjalani kehidupan dunia ini.

Berbicara tentang sifat hati setiap insan, pasti bisa disimpulkan, bahwa setiap manusia mempunyai sifat hati yang berbeda-beda.

Pertama, hati yang dihiasi dengan nilai ketaqwaan , dzikir, pembersih jiwa, dan muraqabatullah(sikap hati yang selalu merasa dalam pengawasan Allah). Hati seperti ini, insya Allah dapat menangkal segala sifat tidak terpuji. Hati seperti ini disebut hati yang bersih( Qolbun Salim).

Kedua, hati yang dipenuhi hawa nafsu dan terselimuti sifat-sifat tercela. Hati seperti inilah yang kerap kali menjadi mangsa Syaitan untuk mengobrak abrik kebaikan hati yang ada didalamnya.

Ketiga, hati yang memiliki potensi mengikuti hawa nafsu, namun juga masih terdapat jeritan keimanan untuk berbuat kebaikan. Ia berada diantara kebaikan dan keburukan, walaupun pada akhirnya harus menentukan pilihan hitam atau putih.

Untuk itu Allah sudah menegaskan bahwa hati yang bersih dan suci itulah hati yang dimuliakan Allah. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya: ''Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Dan(dihari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertaqwa''(QS. Asy-syura: 87-90).

Jika kita renungkan ayat diatas, sebenarnya Allah menginginkan agar seluruh hamba-hambanya dapat memiliki hati yang bersih, yang dapat mengantarkan mereka pada surga Allah, sekaligus untuk menyempurnakan segala kenikmatan yang diberikan kepada seluruh hamba-hambanya. Namun untuk memiliki hati yang bersih, kita terlebih dahulu harus mengetahui seluk beluk hati manusia, sifat-sifatnya dan juga godaan-godaan yang dapat menghanyutkannya. Karena Hati ini merupakan pusat jiwa manusia, yang apabila hatinya baik, maka akan Insya Allah akan baik pula seluruh tubuhnya, dan jika hatinya buruk, maka akan buruk pula seluruh tubuhnya.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda yang artinya: ''Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam tubuh seseorang itu terdapat segumpal darah, yang apabila ia baik maka baik pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah Hati(HR. Bukhari Muslim).

Mendeteksi Hati
Mereka yang mengenal hatinya maka ia akan mengenal rabbnya. Namun disayangkan, karena saat ini banyak manusia yang tidak mengenal hatinya sendiri. Lalu Allah menjadikannyaseolah dirinya terpisah dari hatinya dan mereka termasuk orang yang paling lalai untuk mengingat Allah. Maka ada beberapa hal yang harus kita kerjakan, apakah hati kita ini masih mempunyai niat kebaikan didalamnya ataukah sebaliknya hati kita selalu di penuhi dengan niat yang buruk.
Khusu' dalam Shalat
Qabu yang sehat adalah jika dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan. Kemudian mereka mengerjakan shalat penuh dengan ke khsu'an dan semata-mata hanya menharapkan keridhaan Allah. Jika mereka berbuat yang demikian maka akan membuktikan bahwa hati yang dimilikinya masih istiqamah di jalan Allah.

Mengapa demikian? Karena ketika adzan berkumandang, diri mereka segera mengerjakan shalat dan mereka meyakini bahwa dengan mengerjakan shalat pasti akan mendapatkan kebahagiaan serta penyejuk hati dan jiwa mereka.

Ingat Akan Kehidupan Akhirat
Salah satu hati yang sehat yaitu selalu ingat akan kehidupan di akhirat. Jika sudah ingat, pasti ia akan segera memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa yang sudah dilakukannya. Namun jika ia tidak ingat akan kehidupan akhirat. I i membuktikan bahwa hati mereka sudah mati dan tidak baik lagi untuk beribadah kepada Allah. Maka beruntunglah ketika hati seseorang sehat, maka dia akan menuju jalan ke akhirat dengan petunjuk arah yang baik. Sedangkan bila qalbu tersebut sakit, maka dia akan terlena dengan mementingkan kehidupan dunia dan menganggapnya sebagai kehidupan yang kekal abadi.

Introspeksi dan memperbaiki Diri
Qalbu yang sehat senantiasa memberi perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal ibadah kepada Allah. Kemudian mereka terus bersemangat untuk meningkatkan keikhlasan dan beramal, mengharapkan nasihat yang baik dari orang lain, menjauhi perbuatan maksiat dan meyakini bahwa Allah selalu melihat apa yang mereka kerjakan selama hidup di du ia ini. jika kita berbuat demikian, ini membuktikan bahwa hati yang kita miliki masih baik dan bersih dari segala bentuk perbuatan dosa.

Nah dengan melakukan beberapa cara diatas, Insya Allah kita dapat memahami sendiri, apakah hati kita ini masih bersih dan suci? atau sebaliknya, maka sebagai hamba Allah, hendaknya kita memohon dan memasrahkan hati kita kepada Allah, agar hati ini terhindar dari goresan-goresan kemunafikan menuju ke ikhlasannya yang abadi.*

Saturday, 5 March 2016

Do'a Pada Orang Tua, Sampaikah?

Wolfe Islami - Seorang anak sudah sepatutnya mendo'akan orang tuanya kendati masih hidup maupun ajal sudah menjemputnya. Karena do'a adalah harapan dan tumpuan orang tua, terlebih di saat nanti berada di akhirat.

Dalam ajaran Islam telah dijelaskan, bahwa terdapat tiga amal perbuatan yang tidak pernah putus ketika ajal menjemput seseorang. Hal ini sudah ditegaskan dalam sebuah Hadist yang artinya:

''Bila manusia telah mati, maka putuslah semua amal perbuatannya, kecuali tiga hal, yaitu sadaqah jariyah, ilmu pengetahuan yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendo'akannya(Shahih Muslim,IV,71-72).

Hadist ini secara tegas dan gamblang menerangkan, bahwa untaian do'a seorang anak kepada kedua orang tuanya tidak perduli anak kandung, anak tiri maupun sekedar anak asuh biasa tetap menjadi sangat berarti bagi ketenangannya di alam barzah. Do'a anak diibaratkan air yang bisa menyejukkan dan menyegarkan dahaga saat di padang tandus.

Namun apakah do'a anak shaleh tersebut sampai kepada orang tua yang telah meninggal? padahal, Allah telah berfirman, yang artinya: ''Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya''.(QS:Al-Najam[53]:39).

Terkait hal ini, terjadi perbedaan pendapat dalam mazhab. Menurut mahzab Imam Syafi'i seseorang tidak bisa memberikan manfaat dalam bentuk apapun kepada orang tua yang sudah meninggal. Sementara Mahzab Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Mazhab Hambali berpendapat bahwa do'a itu pasti sampai dan sangat bermanfaat bagi orang yang telah mati.

Menyikapi perbedaan tersebut, ulama Al-Syawkani mencoba mengambil jalan tengah diantara kedua pendapat tersebut. Menurutnya keberadaan anak tersebut juga termasuk dalam usaha yang dilakukan oleh orang tua, sehingga hal itu termasuk dalam bingkai makna ayat dalam surat Al-Najam tersebut. Dengan demikian, pahala do'a seorang anak akan sampai kepada orang tuanya yang sudah meninggal.(ROL)





Foto:taq-im Alqur'an.org

Thursday, 25 February 2016

Kebesaran Allah Terlihat Di Alam Semesta

Tauhid adalah hal terpenting bagi kehidupan seorang manusia. Bagaimana tidak, karena hanya amal yang dilandasi dengan tauhidillah saja yang akan membawa pelakunya pada kebahagiaan hakiki, didunia dan diakhirat kelak. Kekuatan akidah kita juga banyak ditentukan sejauh mana pemahaman kita akan tauhid tersebut. Dalam al-Qur'an Allah berfirman:
"Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa yang telah mereka kerjakan"(QS. AN-Nahl : 97)

Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap muslim mempelajarinya. Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan)-Nya, dan wahdaniyah (Keesaan)-Nya, dan bukan pula sekedar mengenal asma'dan sifat -Nya

Apakah sebenarnya Tauhid itu......
Tauhid berasal dari bahasa arab yang berarti mengesakan. Menurut istilah Tauhid adalah meyakini bahwa Allah itu hanya satu, tidak ada yang menyamai, tidak setara dengan apapun, tidak mungkin ada yang menandinginya.

Tauhid adalh pemurnian ibadah kepada Allah, maksuknya yaitu menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekuen dengan menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya.

Lawan Tauhid adalah Syirik. Syirik merupakan perbuatan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan seseungguhnya misi para Rasul adalh untuk menegakkan tauhid dalam pengertian terssebut diatas, mulai Rasul pertama sampai Rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad Saw.

Hadis Merupakan Warisan Rasulullah SAW

Hadis Memiliki Kedudukan yang penting setelah Al-Qur'an. Ilmu ini telah menjadi perhatian ulama sejak awal perkembangan Islam hingga saat ini. Namun dalam perjalanannya hadis, Rasulullah pernah melarang para sahabat untuk mencatat hadis-hadis karena khawatir akan bercampur dengan ayat-ayat al-Qur'an.

Istilah lain yang identik dengan hadis adalah as-sunnah, namun beberapa ulama membedakan pengrtian keduanya. Kelompok, muhadditsin (ahli hadi) mengemukakan pengertian as-sunnah adalah "segala sesuatu yang dinukil dari Nabi Muhammad Saw baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat-sifat lahir dan batinnya ataupun perjalanan sesudah diangkat menjadi Rasul seperti bertahannust di gua Hira' maupun sesudah diangkat menjadi Rasul".

Pengertian sunnah inilah yang identik dengan hadis. Meskipun beberapa ulama membedakan hadis adalah segala sesuatu yang dinukil dari Nabi Muhammad Saw, adapun sunnah adalah amalan-amalan yang dilakukan Nabi muhammad Saw dan para sahabatnya yaitu kebiasaan yang hidup di masa Nabi Musa.

Hadis di bedakan menjadi:
  1. Hadis Qauli, yaitu hadis-hadis yang diucapkan Nabi Muhammad Saw dalam berbagai bidang.
  2. Hadis Fi'li, Perbuatan-perbuatan Nabi Muhammad Saw yang sampai pada kita melalui penukilan sahabat.
  3. Hadis Taqriri, Keadaan Nabi Muhammad Saw yang mendiamkan, tidak berkomentar dan tidak menyanggah serta menyetujui apa yang dilakukan oleh para sahabatnya.

Tuesday, 23 February 2016

Mutiara Iman Dalam Diri Manusia

Iman dalam kehidupan manusia diibaratkan mutiara dan cahaya dalam hatinya. Sehingga tanpa iman, maka kehidupan manusia akan menjadi gelap. Tanpa iman maka jalan hidup seseorang bagaikan tanpa arah dan tujuan, karena tidak ada orientasi tertentu dalam perjalanannya. Iman tidak hanya sekedar keyakinan dalam hati, namun juga diikrarkan di lisan, dan dilaksanakan dengan anggota badan;


"Iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dalam lisan, dan dilakukan dengan anggota badan (perbuatan)"

Hadis tersebut menjelaskan 3 hal yang menjadi unsur penting sebuah keimanan, yaitu :

  1. Hati yang meyakini.
  2. Lisan yang mengikrarkan.
  3. Anggota badan yang selalu menerapkan dalam perbuatan.
Kecintaan kita kepada Allah, tentulah diawali dari keyakinan kita akan keberadaan-Nya kemudian lisan kita dengan penuh kesadaran mengikrarkannya selanjutnya tentulah tanpa paksaan sedikitpun kita dapat mengaplikasikan dalam kehidupan kita. Itulah kecintaan yang sempurna dan Keimanan yang haqiqi kepada Allah. Sehingga ia meletakkan keimanan kepada-Nya pada tempat tertinggi dibanding kecintaannya kepada apapun. Begitu pula dengan rukun keimanan lainnya, karena tentulah tidak sempurna keimanan kita jika hanya mengimani Allah tanpa Malaikat, Kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan taqdir baik buruk yang kita terima, sebagaimana hadis riwayat muslim:

"Jibril berkata : beritahukanlah padaku tentang iman! jawab Nabi saw : Hendaknya engkau beriman kepada Allah, Kepada Malaikat-Nya, Kepada Kitab-KitabNya, Kepada Rasul-rasulNya, Kepda hari kiamat, dan beriman kepada Qadar yang baik serta yang buruk."
(HR Muslim)

Dalam konteks sosial, diamana manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi, maka keimanan seseorang menjadi hal yang mutlak dimiliki. Bagi kita umat islam, tidak ada lagi istilah "ini aku dengan segala keimananku" namun yang harus disebarkan dan ditebarkan adalah "inilah keimananku dengan kasih sayangku". Maka hendaknya kita tidak tenggelam dalam rutinitas religi kita dengan mengesampingkan kawan-kawan di sekitar kita. Mengapa demikian, Karena Rasulullah Saw sebagai tuntunan kita pun mengjarkan bahwa kebaikan untuk orang lain juga termasuk kesempurnaan iman. sebagaimana disabdakan dalam hadis yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim dari Abu Hamzah, Anas bin Malik :

"Rasulullah Saw, bersabda : Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kaum sehingga ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"

Namun sangat perlu kita ketahui, bahwa sanya iman memiliki banyak cabang yang dapat kita amalkan, sebagai mana hadis yang diriwayatkan :

"Iman terdiri dari 71 cabang yang paling utama ucapan Laa ilaaha Illallah, yang paling rendah menyingkirkan ganguan dari jalan adapun malu adalah sebagian dari Iman".

Keistimewaan Al-Qur'an

Sebagai pedoman hidup umat manusia, al-Qur'an memiliki beberapa Keistimewaan dan kelebihan dibandingkan kitab-kitab suci lainnya, diantaranya:

A. Al-Qur'an memuat ringkasan dari ajaran-ajaran ketuhanan yang pernah di lihat kitab-kitab suci sebelumnya seperti, Taurat, Zabur, Injil, dan Lain-lain. Juga ajaran-ajaran dari Tuhan berupa wasiat. Al-Qur'an Juga mengokohkan perihal kebenaran yang pernah trkandung dalam kitab-kitab suci terdahulu yang berhubungan dengan peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa, beriman kepada Rasul, membenarkan adanya balasan pada hari akhir, kejharusan menegakkan hak dan keadilan, berakhlak luhur serta berbudi mulia dan lain-lain.

B. Al-Qur'an memuat kalam-kalam Allah yang di jadikan pedoman hidup manusia sepanjang masa sehingga Al-Qur'an memang dikehendaki Allah kekal. Kewajiban kita menjaganya dari serangan pihak-pihak yang menginginkan Al-Qur'an musnah dan mengubah kemurniannya. Meskipun kita tidak mampu menjaganya, maka Allah pasti akan menjaganya, dan Allah sebaik-baik Dzat Maha Penjaga.

C. Al-Qur-an adalah sumber ilmu pengetahuan. Sehingga seluruh fenomena yang terjadi di alam semesta yang merupakan ciptaan Allah juga tidak akan pernah kontradiktif dengan apa yang Dia ciptakan. Dari sudut inilah, maka kita menyaksikan sendiri betapa banyaknya kebenaran yang di temukan oleh ilmu pengetahuan modren ternyata sesuai dan cocok dengan apa yang terkandung dalam Al-Qur'an . Jadi apa yang di temukan adalah memperkokoh dan merealisir kebenaran dari apa yang sudah difirmankan oleh Allah Swt sendiri.

D. Al-Qur'an di turunkan oleh Allah Swt, dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapa pun untuk memahaminya dan tidak sukar pula mengamalkannya, asal disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat. Allah Swt, Menghendaki agar Al-Qur'an dapat disyiarkan kepada akal pkiran dan seluruh pendengaran sehingga dapat menjadi kenyataan dan perbuatan.

Dari Aisyah ra iaberkata, "Nabi Muhammad Saw besabda:
"Orang yang membaca Al-Qur'an  dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur'an dan ia masih terbat-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala." Muttafaqun'alaih.

Al-Qur'an yang mulia merupakan alat peneguh yang paling utam, dia merupkan tali Allah yang kuat, cahaya yg terang, siapa yang mengikutinya Allah akan menyelamatkannya dan siapa yang menyeru kepadanya akan ditunjukkan kepadanya jalan yang lurus.

Memahami Pengertian Al-Qur'an Dan Hadis

Al-Qur'an berarti bacaan yang sempurna, ksempurnaan al-Qur'an sebagai bacaan dibandingkan dengan bacaan yang ada di buktikan dengan:

  1. Di baca oleh ratusan juta manusia, meskipun mereka tidak tahu artinya dan tidak dapat menulis aksaranya;
  2. Diatur tata cara membacanya, panjang pendeknya, tebal tipis ucapannya, sampai pada etika membacanya;
  3. Dipelajari dari susunan kata dan kosa katanya, dan juga makna terkandung.
Sedangkan al-Qur'an menurut istilah adalah:
Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad saw, secara berangsur-angsur melalui malaikat Jibril dan membacanya adalah ibadah. Rasulullah banyak menerima wahyu dari Allah baik secara langsug maupun perantara Malaikat Jibril dan di bukukan, tetapi tidak disebut al-Qur'an dan membacanya tidak dinilai ibadah.

Dari kesimpulan diatas, kita dapat mengetahui bahwa Al-Qur'an adalah kitab suci yang isinya mengandung firman Allah, turunnya secara berangsu-angsur melalui malaikat Jibril, dan pembawanya Nabi Muhammad SAW. Susunannya dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, membacanya bernilai ibadah, fungsinya antara lain menjadi hujjah atau bukti yang kuat atas kerasulan Muhammad Saw. Keberadaannya hingga kini masih tetap terpelihara dengan baik, dan permasyarakatannya dilakukan secara berantai dari satu generasi ke generasi lain dengan tulisan  maupun lisan.

Hadist bisa juga di maknai dengan sunnah, selain Al-Qur'an, pedoman utama bagi umat Islam adalah sunnah Nabi. Mengikuti sunnah Nabi merupakan bukti kecintaan kepada Allah, Sebagaimana firman Allah dalam QS.Ali-Imran : 31

" Katakanlah "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu" Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Mengikuti sunnah Nabi akan menghindarkan ummat dari kesesatan dan bid'ah, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw;

" Rasulullah Saw besabda; " Aku tinggalkan dua perkara untukmu sekalian, dan kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian selalu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya "
(HR. Muslim)

Hadis yang berarti baru, Peristiwa, muda, perkataan cerita. Adapun menurut istilah Hadis adalah segala sikap, perkataan, perbuatan dan penetapan / persetujuan (taqrir) Rasulullah Saw. Sunnah Nabi direkam dalam hadis, yang di hafalkan,disebarkan dan di trdisikan oleh para sahabat, tabi'in, para ulama.

Secara harfiyah, hadis berarti jalan hidup yang dibiasakan, berita, perkataan, yang di hafalkan, disebarkan dan ditradisikan oleh para sahabat, tabi'in, para ulama. Terkadan jalan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk.

Semoga dengan memahami arti dari Al-Qur'an dan Hadis kita dapat menjadi manusia lebih taat kepada Allah SWT, Amin.