Showing posts with label Jurnalisme. Show all posts
Showing posts with label Jurnalisme. Show all posts

Thursday, 7 April 2016

Macam Berita dan Sumbernya

Pada bagian ini akan diuraikan tentang Macam-macam berita. Bagi seorang wartawan yang maju, pengertiannya tentang berita tidaklah lengkap, jika ia tidak pula mengetahui macam-macam berita yang akan dijumpainya dalam dunia tulis menulis.

Macam berita akan sangat menentukan sumber berita, disamping pengembangan akan macam berita juga akan berfaedah guna tekhnik penulisan berita. Suatu berita ekonomi misalnya, oleh macam berita tersebut, yaitu kalangan dagang, Departemen Perdagangan, Perindustrian, Pertambangan, Departemen Keuangan, Bank Indonesia, Kamar Dagang Indonesia(Kadin), dan lain sebagainya.

Begitu pula berita politik, hanyalah dapat dicari dikalangan politik, partai , diplomat, anggota DPR, MPR, Departemen luar Negeri dan sebagainya. Jadi, jelas macam-macam berita menentukan sumbernya, karena untuk melengkapi indra-warta, tidaklah hanya cukup dengan pengetahuan tentang berita saja, akan tetapi juga macam berita.

Kita ketahui, tugas wartawan adalah untuk mencari berita, dan kemudian menulisnya sedemikian rupa agar ia dapat menarik perhatian pembaca. Sehingga disimpulkan seorang wartawan harus mengetahui macam berita, untuk:
1.Menentukan sumber berita, dimana berita itu dapat dicari.
2.Menentukan cara penulisan beritanya, agar berita itu dibaca pembaca .

Macam berita dapat dibagi empat pokok
1.Berdasarkan sifat kejadian berita
2.Berdasarkan soal atau masalah yang dicakup berita.
3.berdasarkan jarak kejadian dan publikasi berita.
4.berdasarkan isi berita.

Saturday, 26 March 2016

Unsur berita 'emosi' dan 'Humor'

Wolfe, Jurnalisme - Manusia sebagai makhluk sangat dipengaruhi pula oleh emosi. Sebab diantara emosi itu adalah simpati. Simpati yang ditimbulkan oleh sesuatu berita, selalu menarik perhatian pembaca.

Gempa Bumi dan Tsunami dahsyat yang melanda Aceh pada tahun 2004 silam, yang telah mengambil korban ribuan jiwa, menimbulkan simpatik Dunia. Hampir seluruh belahan dunia mengenal pulau Bali, dan kemalangan yang menimpa rakyat Aceh menimbulkan simpatik penduduk dibagian dunia lainnya. Tidak heranlah kita, berita-berita mengenai Gempa Bumi dan Tsunami ini, telah menggerakkan hati orang-orang di luar negeri untuk mengirimkan bantuannya, untuk meringankan penderitaan sesama manusia, menunjukkan simpatik atas kemalangan yang menimpa rakyat Aceh.

Sedangan Unsur berita ''Humor'' adalah sesuatu yang lucu dan menggelikan serta menghibur pembaca.

Ada pepatah yang mengatakan ''orang yang suka tertawa awet muda'', ada sifat manusia yang selalu tertarik dengan sesuatu yangucu, yang menerbitkan tertawanya atau keriangannya. Malah ada orang yang mengatakan bahwa ''Manusia adalah makhluk yang pandai tertawa.''

Demikian pula humor atau lelucon merupakan unsur berita yang penting, yang selalu menarik pembaca surat kabar cetak atau online. Suatu berita atau tulisan reportase yang diselingi dengan rasa humor akan dapat menarik pembaca, meskipun panjangnya mencapai beberapa kolom.*




foto: ngcokperut.blogspot.com

Unsur Berita ''Human Interest''

Mengenai Unsur Berita ''Human Interest'' semua Surat kabar pasti mengandung human interest. Karena Istilah Human Interest erat kaitannya dengan penekanan pada orang yang berusaha mengungkap sisi emosional untuk pembaca.

Para wartawan menggunakan istilah Human Interest untuk berita-berita yang tidak mengandung unsur lain. Misalnya nama tokoh penting atau terkenal, unsur akibat, unsur termasa dan sebagainya, akan tetapi sangat menarik perhatian pembaca. Contoh Dalam berita-berita Human Interest, seperti dapat kita sebutkan sebuah berita tentang seekor ikan di Aquarium di Hawaii yang dapat membunyikan lonceng atau Genta, jika ia lapar untuk meminta makanannya. Atau seekor Gorilla di Kebun Binatang memukul-mukul dadanya bila dia ingin meminta perhatian setiap pengunjung yang datang kekebun Binatang.

Biasanya berita-berita mengenai dunia binatang dimasukkan atau digolongkan orang dalam berita-berita ''Human Interest''. Misalnya pula satu-satunya onta yang ada di kebun binatang Ragunan mati, maka ia pun merupakan suatu berita yang mengandung unsur Human Interest.

Ditinjau dari segi kepentingan atau akibat, berita itu tidak ada artinya sama sekali, akan tetapi sangat menarik untuk dibaca. Biasanya berita-berita yang termasuk dalam golongan human interest menghendaki keahlian menulisnya atau keahlian si wartawan untuk melukiskannya, agar beritanya dapat menarik pembaca.*




Sumber foto: kaskus.co.id

Sunday, 20 March 2016

Unsur Berita Tentang ''Kemajuan''

Wolfe, Jurnalisme - Manusia sebagai makhluk sosial senang dengan kemajuan, seorang petani ingin anaknya menjadi maju, menjadi dokter dan juga Insinyur atau yang lainnya. Tidak hanya kemajuan dalam keluarganya, akan tetapi juga kemajuan dalam Ilmu Pengetahuan, pengobatan, penjelajahan angkasa, kemajuan dalam teknologi digital, semuanya menarik pembaca.

Tidak heran jika diingat sewaktu Uni Soviet pada tahun 1957 untuk pertama kalinya berhasil meluncurkan sputnik yang pertama.

Surat-surat kabar nasional maupun internasional memberitakan peristiwa tadi dengan huruf-huruf besar, dan untuk beberapa hari ruangan-ruangan media cetak pada hari itu diseluruh pelosok dunia di penuhi dengan berita-berita mengenai sputnik, yang merupakan kemajuan Ilmiah.

Untuk pertama kalinya manusia berhasil menjejakkan kakinya di abad luar angkasa, dan membuka pintu kearah kemungkinan penjelajahan kebulan. Begitu pula dengan kejadian berhasil mengorbitkan kendaraan luar angkasa ''Voskod'' dengan tiga orang penumpang, telah membuat beritanya menhiasi halaman pertama surat-surat kabar diseluruh dunia.

Tidak hanya kemajuan dalam bidang tegnologi luar angkasa, akan tetapi kemajuan dalam bidang pengobatan juga selalu menarik. Penemuan obat Girovital yang dapat mengembalikan orang tua menjadi muda, menarik perhatian dunia. Begitu pula kemajuan-kemajuan dalam bidang alat-alat telekomunikasi atau kominikasi massa, misalnya penemuan penemuan televisi berwarna, faximile dan robot Industri juga menarik. Pokoknya segala kemajuan merupakan unsur berita, yang menambah nilai berita.*

Sunday, 13 March 2016

Unsur Berita Tentang ''Seks''

                                                            foto: Ilustrasi

Wolfe, Jurnalisme - Unsur berita tentang yang satu ini memang mempunyai nilai berita tersendiri. Tidakkah karena Cleopatra, Antonius bersujud dan melupakan tugasnya, untuk terus bercengkrama di taman Asmara. Dari contoh yang modern, kisah tragis Ratu Soraya sampai sekarang masih tetap menarik. Dan kisah Ratu Inggris Lady Diana dikejar-kejar papa razzy karena diketahui telah memadu kasih dengan kekasih barunya sampai dia mengalami kecelakaan.

Yang paling akhir, seks menjadikan Headline surat-surat kabar Inggris yakni, dengan terbongkarnya Skandal-skandal orang-orang terkenal maupun pejabat-pejabat teras Negara.

Pokoknya seks selalu merupakan unsur berita yang selalu menarik. Pidato bekas Presiden Soekarno yang pada satu saat juga menyinggung ratu-ratu seks Hollywoood, dengan mengatakan, tidak hanya di Hollywood, ada Marilyn Monroe dan Brigite Bardot, kita di Indonesia juga mengenal FF ( alias Fetty Fatimah). Bagian pidato ini oleh wartawan sengaja dikeluarkan dari pidato itu untuk dijadikan berita tersendiri, yang di set dengan huruf tebal dan dimuat dalam box. Semata-mata karena ia mengandung unsur seks, yang akan menarik pembaca. Jadi nyata unsur seks akan menambah nilai berita dan menarik pembaca untuk membacanya.

Dari segi ini pula harus dilihat, mengapa mingguan-mingguan Varia atau Mingguan Selecta, selalu memuat pada halaman depannya gambar-gambar Artis Film yang ayu dan Cantik, atau wajah-wajah mojang Parahiyangan atau gadis-gadis lain yang cantik dan luwes; yang kesemuanya hanya dapat di terangkan dengan unsur seks dalam pemberitaan itu tadi.*

Wednesday, 9 March 2016

Unsur Berita ''Ketegangan''


Wolfe, Jurnalisme - Salah satu dari unsur berita yang sering digunakan oleh wartawan untuk tujuan memperbesar oplag (circulation builder)' adalah dengan taktik menimbulkan ketegangan. Seperti dalam drama atau thriller, maka penonton dirangsang dengan ketegangan untuk mengetahui apakah yang akan terjadi kemudian, demikian pula pembaca surat kabar, dirangsang dengan perasaan ingin tahu akan kelanjutan dari pemberitaan kemarin.

Perampokan perhiasan di musium Jakarta, menimbulkan ketegangan kepada pembaca untuk mengetahui bagaimana tindakan polisi, dan apakah perampoknya sudah dapat dibekuk. Demikian pula halnya dengan berita-berita kejahatan yang misterius, yang menimbulkan ketegangan kepada pembaca untuk mengetahui akhirnya atau keterangan lebih lanjut.

Dalam hubungan dengan unsur ketegangan, suatu gambaran yang ping hidup mengenai digunakannya unsur ini oleh wartawan, terlihat dalam sebuah film Hollywood yang berjudul ''Ace in the Hold'' atau di Indonesia ia diberikan judul ''The Big Carnival''. Pemegang peranan dalam film ini utamanya ''Kirk Douglas, yang memegang peranan sebagai wartawan. Film ini diputar beberapa tahun yang lalu di Indonesia. Dalam Film itu diceritakan seorang wartawan yang sudah kehabisan berita, mendapatkan berita tentang seseorang pekerja yang terjepit di sebuah gua. Berita itu dimuat oleh wartawan tersebut.

Sebagai sebuah harian daerah, maka berita itu menarik perhatian publik atau pembaca di daerah, sehingga timbul ketegangan yang dirangsang oleh perasaan ingin tahu, bagaimana nasib selanjutnya dari pekerja yang terjepit di gua tersebut. Sang wartawan yang tahu akan selera pembacanya, terus memberikan berita-berita mengenai nasib pekerja tersebut secara sensasional.

Semikian lihainya wartawan itu, sehingga ia berhasil pula membujuk Kepala Polisi Distrik, untuk tidak memberikan pertolongan dengan cepat dan langsung, akan tetapi dengan cara melubangi tanah, yang akan memakan waktu beberapa hari untuk mencapai dan menyelamatkan pekerja yang terjepit di dalam gua.

Kepala Polisi Distrik atas bujukan si wartawan dan demi publikasi untuk dirinya, menyetujui rencana si wartawan, sedang sebaliknya si wartawan dalam waktunya yang cukup lama berhasil menarik perhatian jumlah pembaca yang semakin besar. Berita-berita tentang hal itu menarik perhatian dan merangsang serta menggugah perasaan simpati publik dengan nasib pekerja yang malang yang terjepit di dalam gua.

Berita daerah itu kemudian menjadi berita Nasional, dan dari seluruh penjuru Amerika datang wartawan-wartawan untuk mengcover berita tersebut. Kota kecil tadi lalu menjadi ramai oleh publik yang datang dengan menggunakan berbagai kendaraan, untuk dapat menyaksikan sendiri bagaimana akhirnya nasib si pekerja yang terjepit di gua. Kota kecil itu menjadi seperti ada pasar malam, hotel-hotel penuh, rumah-rumah hiburan penuh oleh rangsangan ketegangan yang ditimbulkan oleh berita-berita yang secara sensasional disiarkan oleh wartawan tersebut. Cara-cara semacam ini mungkin saja terjadi dalam alam Pers liberal, seperti yang digambarkan oleh film Hollywood tadi.

Dari uraian ini terang bahwa unsur ketegangan memegang peranan penting yang turut menentukan nilai sesuatu berita. Semakin misterius soal yang diberitakan, semakin tinggi ketegangan yang ditimbulkannya, dan semakin tinggi pula nilai beritanya.*



Foto: anneahira.com

Saturday, 5 March 2016

Unsur Berita “Akibat”


Ketika kita membicarakan Unsur berita yang menyangkut jarak, dekat jauhnya tempat kejadian dengan tempat publikasi berita, telah dikutip pendapat Carl Warren, yang menyatakan bahwa yang paling menarik didunia bagi setiap manusia adalah, sesuatu tentang dirinya sendiri. Dalam hubungan dengan sifat manusia yang egosentris, maka segala sesuatu yang langsung akan memberikan akibat kepada dirinya akan menarik perhatian dirinya.

Jadi sesuatu berita tentang akan dinaikkannya harga bensin oleh pemerintah akan menarik perhatian pembaca, karena keputusan kenaikan harga bensin itu akan langsung memberikan akibat kepada dirinya. Bagi pembaca yang mempunyai mobil, ongkos bensin mobilnya akan bertambah besar, sedangkan bagi yang tidak mempunyai kendaraan mobil ia dapat mengharapkan bahwa ongkos oplet, atau sudako akan naik tariff ongkosnya.karenannya.

Demikian pula percobaan peledakan Bom atom oleh RRC pada akhir tahun 1964 telah menarik perhatian pembaca di dunia. Harian-harian memuat kejadian tersebutdengan kepala berita yang besar-besar, dan tidak sedikit negarawan di dunia yang dirangsang untuk memberikan pendapat atau komentarnya tentang kejadian tersebut. Betapa tidak, kejadian tersebut mempunyai akibat yang tidak kecil, yang akan mengubah imbangan kekuatan didunia dari Negara-negara pemilik senjata nuklir; dimana untuk pertama kalinyabangsa berwarna turut memiliki senjata yang maha dahsyat ini.
Jelaslah sesuatu kejadian yang mempunyai pengaruh atau akibat, akan menarik perhatian orang karena ia menggugah sifat manusia yang egosentris.*

Unsur Berita (Keluarbiasaan)


Sesuatu yang aneh, sesuatu yang luar biasa selalu menarik perhatian orang. Mobil sedan yang kencang indah melewati jalan raya tidak menarik perhatian orang. Akan tetapi bila mobil sedan nan mewah itu berjalan miring kencang dengan santainya di jalan raya umum dengan hanya dua ban belakang dan depan, maka ia akan menarik banyak perhatian orang, terutama para pengendara di jalan umum, karena kejadian itu adalah sesuatu yang luar biasa. Teranglah karena ia menarik perhatian orang, kejadian itu mempunyai nilai berita. Sesuatu yang aneh atau luar biasa memacu selalu menarik perhatian orang.

Demikian pula pada pertengahan bulan Oktober1964, hampir semua harian-harian di ibukota, baik harian pagi maupun harian sore membuat sebuah berita dari AFP/Antara, yang berisikan kejadian luar biasa. Berita tersebut berasal dari Bangkok, di mana dinyatakan keterangan seorang Dokter Thailan. Bahwa pada perut seorang petani lelaki diketemukan Fetus(bayi). Sensasi besar telah terjadi di Bangkok, dimana sebuah harian berbahasa Thailan, telah memuat foto petani lelaki tersebut yang berbaring di sebelahnya pula bayi yang berkepala, bermuka dan bertangan dua.

Kejadian itu adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang aneh. Betapa tidak, seorang lelaki yang tidak mempunyai fungsi untuk mengandung, pada kali iniditemukan mengandung!, tidak heran kalau berita itu dikutip oleh sebuah kantor berita Internasional, seperti AFP, yang kemudian menyiarkannnya ke seluruh dunia. Benar atau tidaknya berita itu tidak menjadi tanggapan kami, akan tetapi keluarbiasaan keanehan itu patut diberitahukan. Ia mempunyai nilai berita.

Demikian pula dengan kejadian-kejadian pula yang terjadi hanya satu kali saja, misalnya peresmian pembukaan jaringan penerbangan ke Tokyo oleh Garuda Indonesia Airways: atau peresmian pembukaan kereta kilat Jakarta-Bandung. Karena kejadian-kejadian yang satu kali saja inipun termasuk sesuatu yang luar biasa, karenanya mempunyai nilai berita. Apabila peresmian ini sudah berjalan dan jaringan penerbangan ini sudah diterbangi oleh pesawat GIA dengan penerbangan yang teratur, maka ia bukan lagi berita, karena unsure keluar biasaan itu sudah tidak ada lagi; dank arena itu nilai beritanya pun tidak lagi ada.*




Sumber foto: awanjakarta.com


Unsur Berita Penting(Ternama)

Salah satu Bab dalam bukunya George Fox Mott yang berjudul New Survey Of Journalism, diberikan judul Names Make News (Nama Membuat Berita). Betulkah pendapat Mott Nama membuat berita? kita tidak sependapat seluruhnya dengan Mott bahwa “Nama membuat berita”, karena tidak seluruh nama mempunyai nilai berita, sehingga ia patut di beritakan.

Dalam hubungan ini segi penting atau terkenal tidaknya seseorang, mempunyai pengaruh terhadap nama itu. Sebagaimana telah kita kutipkan ucapan Charle A. Dana yang klasik, yang menyebutkan, “Apabila anjing menggigit orang, itu bukan berita, akan tetapi apabila orang yang menggigit anjing; baru berita, sebenarnya itupun terletak kepada “Siapa orang yang digigit anjing itu?

Orang yang bernama Amat, orang yang biasa, yang digigit anjing, tentu kejadian ini tidak mempunyai nilai berita. Akan tetapi jika Marshanda atau Judika artis terkenal yang digigit anjing tersebut, terang kejadian itu akan mempunyai nilai berita. Apakah bedanya nama Amat dan Marshanda atau Judika Aktris terkenal itu?, kalau ditilik dari segi nama dan ungkapan Mott, nama membuat berita. Jadi teranglah bedanya disini bahwa hanya nama-nama yang penting atau terkenal, yang menentukan terhadap nilai sesuatu berita. Jelas yang menentukan nilai sesuatu berita bukan nama. Akan tetapi penting atau terkenal tidaknya menentukan nilai suatu berita.

Dalam hubungan dengan penting atau terkenal tidak hanya nama-nama yang penting dan terkenal saja yang mempunyai nilai berita, akan tetapi juga tempat-tempat yang terkenal dan penting, menentukan pula nilai sesuatu berita. Demikian pula halnya dengan tanggal-tanggal penting. Perampokan dan perampasan sering kit abaca sebagai berita biasa, akan gtetapi perampokan terhadap rumah Prif Mr X misalnya(tokoh ternama, orang penting) atau terhadap Musium Jakarta(tempat terkenal) akan mempunyai arti yang lain. Ia menjadi berita besar. Jadi penting atau terkenal/ternama tidaknya menjadi unsur yang menentukan nilai berita.

Begitu pulalah seorang yang terjatuh dari rumah bertingkat merupakan berita kecelakaan biasa. Akan tetapi ketika belum lama berselang, seorang nyonya terjatuh dari tingkat ke-14 Hotel Berbintang lima Hotel Indonesia(Hotel kebanggaan Rakyat Indonesia), kejadian itu mempunyai nilai berita yang besar. Kejadian itu menimbulkan heboh, Sehingga bagian Hubungan Masyarakat(humas) Hotel Indonesia perlu mengeluarkan press realese, yang menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari kejadian tersebut.

Mengenai unsur penting atau terkenal ini mempunyai pengertian yang relatif. Seseorang yang terkenal di Indonesia, seperti Marshanda, Judika atau Pejabat tinggi Negara Jokowi, tidak atau kurang terkenal diluar Indonesia. Pada harian-harian di Indonesia mungkin nama-nama tadi mempunyai nilai berita, akan tetapi tidak bagi harian-harian diluar Indonesia. Dalam hubungan ini dikenal penggolongan nama-nama penting(tokoh-tokoh), misalnya tokoh-tokoh nasional, tokoh-tokoh daerah, tokoh-tokoh asia, dan seterusnya secara lebih jauh tokoh-tokoh Internasional. Begitu pula halnya dengan tempat-tempat yang dikenal yang telah disebutkan, misalnya pemandian “wisma Nusantara” kurang atau tidak dikenal diluar Jakarta, akan tetapi menara Eifel atau menara Pisa dikenal di seluruh dunia.
Jadi teranglah bahwa nama-nama tokoh penting dan terkenal serta tempat-tempat yang terkenal selalu mempunyai nilai berita dan selalu menarik.*

Wednesday, 2 March 2016

Unsur Berita Jauh Atau Dekat

Jarak terjadinya suatu berita dengan tempat berita itu di publisher mempunyai arti yang penting. Suatu berita tentang kejadian di Jakarta, akan menarik perhatian pembaca di Jakarta; akan tetapi belum tentu menarik perhatian pembaca di Daerah Aceh misalnya, Karena itu suatu Surat kabar Harian Jakarta akan memuat berita itu, sedangkan harian yang terbit di Aceh belum tentu akan memuat berita itu.

Demikian pula halnya dengan berita kecelakaan lalu lintas di Kota Los Angeles yang menimbulkan dua orang korban, tabrakan tentu tidak akan di muat di harian-harian Ibukota. Sebaliknya antara sebuah Microbus dengan sebuah becak di Katamso, meskipun tidak menimbulkan korban, mungkin akan anda baca beritanya dalam berita Kota yang biasanya di beri kepala "Tabrak Tubruk di Ibu kota". Tapi berita kecelakaan di los Angeles itu masih akan di muat di harian ibu kota, bila ternyata bahwa korban itu adalah seorang bintang aktris/Aktor yang ternama atau pemimpin Negara yang terkenal. Jadi jarak terjadinya berita dengan tempat dipublisirnya berita, itu akan mempengaruhi nilai berita. Semakin jauh tempat terjadinya berita itu, semakin kecil nilai beritanya.

Kini timbul pertanyaan, mengapa soal 'jarak' turut memberikan arti penting tidaknya sesuatu berita? sudah diketahui umum bahwa manusia adalah makhluk yang sangat egosentris. "Aku"nya akan selalu menonjol kedepan dalam setiap menghadapi persoalan, dan kemudian secara bertingkat "Aku"nya itu akan terlepas, menjadi keluarganya, bangsanya, pekerjaannya dan sebagainya.

Para ahli Komunikasi massa menyebut, 'bagi setiap manusia soal yang paling menarik di dunia ini adalah dirinya sendiri dan kemudian barulah soal yang dekat dengan badan dan pikirannya-pekerjaannya, kesehatannya, uangnya, rumah serta keluarganya, kawan-kawan dan sahabat-sahabatnya, Club dan tempat ibadahnya, kegemarannya, hiburannya dan permainannya'.

Jelaslah betapa tiap wartawan harus memperhatikan naluri manusia, untuk dapat menunjukkan berita yang menarik. Menurut pengalaman, berita yang pertama yang biasanya dicari oleh pembaca surat kabar, adalah berita kota, yakni kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kota lingkungan kehidupannya.

Begitu pula bagi seorang pembaca surat kabar yang sudah menyaksikan sendiri sesuatu kejadian yang sudah dilihatnya, masih akan membalik lembaran surat kabar untuk membaca laporan atau berita tentang kejadian tersebut. Sebab dari dorongan untuk membaca ini tiada lain adalah untuk membandingkan apa yang telah dilihatnya dengan apa yang dituliskan wartawan dalam surat kabar harian maupun online/Daring.

Perasaan tertarik akan "dirinya sendiri" akan lebih jelas kiranya jika dinyatakan disini bahwa pemuatan potret seseorang dalam sebuah surat kabar akan sangat menyenangkan orang tersebut, lebih-lebih jika namanya turut pula disebutkan. Mungkin potret atau namanya itu kemudian akan digunting dan ditempelkan dalam "Album Keluarga" atau buku "Guntingan Pers" yang sengaja disediakan untuk itu.

Naluri suka dengan "diri sendiri" ini digunakan pula oleh ahli-ahli manajemen surat kabar sebagai alat untuk memperbesar oplag surat kabar, sebagaimana dilakukan oleh Surat-Surat kabar sekarang dalam persaingannya. Yang memuat foto sekelompok orang dengan pilihan seseorang yang diberi lingkaran. Kemudian cerita tentang diri orang yang terkena lingkaran itu dimuat dalam penerbitan berikutnya. Pemuatan foto itu sangat menarik, dan tidak sedikit pembaca yang membeli Koran hari tersebut. Hanya untuk melihat siapakah korban lingkaran minggu ini. Mungkin sahabatnya, kawan sekerjanya, atau keluarganya.Demikian pula pemuatan Horoscope atau ruangan Bintang meramal yang banyak digemari pemuda pecinta kendati itu hanya tidak seratus persen benar. Yang pertama dibaca dalam ruangan itu oleh pembaca adalah peruntungannya sendiri, kemudian peruntungan istrinya, anak-anaknya, pasti dalam hal ini sipembaca tidak akan melihat peruntungan Presidennya atau rajanya misalnya, meskipun ia tahu akan hari lahirnya.

Jadi teranglah sudah bahwa jarak jauh dekatnya terjadinya fakta kejadian dengan pemberitaan, merupakan unsure berita yang penting. Dalam hubungan dengan pembagian macam-macam berita, jarak ini akan pula menentukan macam berita.*


Sumber Foto: detikbuzz.com

Friday, 26 February 2016

Unsur Berita Termasa Dan Terbaru


Unsur berita terbaru dan termasa merupakan unsur yang terpenting bagi sebuah berita.  Berita baru yang masih hangat akan menarik perhatian pembaca, dari pada berita yang agak lama terjadinya. Dalam Dunia kita sekarang ini, dengan kemajuan alat-alat telekomunikasi, setiap wartawan haruslah berusaha untuk melaporkan paling dulu atau mengirimkan berita secepat-cepatnya, untuk menjaga agar berita-berita yang disajikan surat kabarnya tetap hangat. Misalnya berita-berita belasungkawa yang berdatangan dari seluruh dunia, atau pengangkatan-pengangkatan penggantinya dan reaksi-reaksi y berbagai mengenai masalah maupun persengketaan.

Pengertian yang termasa atau terbaru(News) mempunyai arti yang relatif. Ia tidak berarti baru terjadi, karena misalnya Napoleon yang wafat ratusan tahun yang lalu, akan menjadi berita yang menarik perhatian pembaca. Jika timbul kenyataan atau fakta baru tentang dirinya; misalnya hasil penyelidikan baru yang menyatakan kematian Napoleon bukanlah karena sakit, akan tetapi disebabkan karena diracun oleh inggris di Pulau St Helena. Keterangan itu adalah merupakan berita dan akan menarik perhatian pembaca.

Baru atau termasa dimaksudkan baru bagi pembaca dalam arti relatif, yakni pembaca untuk pertama kalinya mengetahui adanya fakta baru, bahwa Napoleon mati tidak karena sakit sebagaimana yang diketahui dahulu, akan tetapi karena diracun.

Kenyataan yang menunjukkan bahwa sesuatu berita yang terhangat atau baru, dapat dilihat dari pemuatan kata-kata “Pagi ini” , “siang ini”, “”Hari Ini’ dan lain sebagainya, yang sering terdapat dalam pengantar berita atau lead. Memang sifat termasa up to date demikian merangsang manusia di zaman modern, yangh dapat pula kita perhatikan dari selera manusia. Dalam soal lagu, lagu yang popular dinyanyikan orang banyak adalah, lagu-lagu yang terbaru. Demikian pula buku,  buku yang laris(best seller) biasanya merupakan karangan yang terbaru. Lebih-lebih kalau kita membicarakan soal mode, karena setiap wanita maupun pria akan berusaha untuk memakai pakaian-pakaian dengan mode terbaru.

Dalam Pers Liberal soal termasa telah menimbulkan persaingan yang hebat antara harian-harian dan kantor-kantor berita ditempat tersebut, untuk mendapatkan berita-berita yang terhangat dan lebih dahulu dari saingannya. Akhirnya disinilah timbul persaingan yang mendorong wartawan-wartawan untuk bekerja keras mendapatkan suatu bahan berita-berita yang terbaru dan melaporkan secepatnya. Sedangkan didalam dunia peralatan dan teknologi komunikasi modern, usaha untuk menyajikan berita-berita dengan cepat dan hangat telah menimbulkan berbagai-bagai alat tekhnik modern, seperti media Internet dan komunikasi Satelit.

Di Negara kita masalah termasa ini pun tidak boleh diabaikan. Harian yang tidak mampu menyajikan berita-berita terhangat akan tertinggal dan lama-kelamaan tidak akan dibaca orang. Karena itulah bila kita lihat harian-harian diibu kota metropolitan berusaha untuk melambatkan “baris kunci” atau istilah inggrisnya Deadline, sehingga masih mungkin untuk memuatkan berita-berita yang diterima Redakturnya paling akhir.

Berita harian-harian yang terbit pagi maka baris kuncinya adalah jam 24.00 atau jam 01.00 malam; sedangkan pada harian-harian petang baris kunci itu biasanya jam 13.30 siang. Dalam hal-hal yang sangat penting, misalnya keputusan kabinet yang luar biasa pentingnya, Deadline masih dapat digeser barang setengah jam. Penggeseran lebih dari setengah jam atau satu jam, akan menimbulkan kesukaran-kesukaran tekhnis, yang akan mengacaukan seluruh jalannya pencetakan harian tersebut. Dan akhirnya harian tersebut akan sangat terlambat sampai kepada pembaca.

Sudah jelas sekali, bahwa soal waktu atau termasa, merupakan soal mati atau hidup bagi suatu harian. Karena itu tidak heran jika kita mendengar keterangan bahwa harian-harian diibukota yang mati atau berhenti terbit karena selalu terlambat terbitnya.


Wednesday, 24 February 2016

Definisi Dan Kesimpulan Berita

Definisi berita atau batasan suatu sepenggal berita disamping batasan-batasan yang agak plastis dan humoristis, yang mudah diingat, lihat pula beberapa batasan lain dari sejumlah penulis yaitu:

Dean M. Lyle Spencer, dalam bukunya “News Writing” yang mengatakan berita dapatlah didefinisikan sebagai suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik perhatian,  sebagian besar dari pembaca.

Dr. Willard C. Bleyer, dalam bukunya “News Paper Writing and Editing”, Berita adalah sesuatu yang termasa yang dipilih oleh wartawan yang dimuat dalam surat kabar, karena ia dapat menarik pembaca-pembaca tersebut.

Eric C. Hepwood, Redaktur Cleveland Plain Dealer yang menyatakan Definisi berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting yang dapat menarik perhatian umum.
Jadi, dari semua Definisi yang dikemukakan ketiga penulis itu, baik yang disusun secara plastis, maupun yang biasa, tampaklah semuanya menunjukkan beberapa persamaan yang dapat disimpulkan Berita adalah menarik perhatian, luar biasa dan terbaru.

Sehingga ahli-ahli jurnalistik atau Kewartawanan Batasan atau Definisi berita dalam arti tekhnis jurnalistik adalah, laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca, entah karena ia luar biasa, entah karena pentingnya atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi-segi humant interest, seperti humor, emosi dan ketegangan.

Sebelum menguraikan lebih jauh tentang unsure sebuah berita, tiap wartawan haruslah memahami lebih dahulu “apa itu berita” atau pengertian tentang berita, agar ia dapat mengenal berita. Seorang wartawan harus pandai membedakan suatu fakta yang mempunyai nilai berita dengan suatu faktayang tidak ada arti beritanya.

Sifat cepat mengenal berita dimintakan ada pada setiap wartawan yang biasanya disebut sebagai “Indra Warta”. Tergantung dari indra warta inilah karir seorang wartawan, apakah ia akan berhasil atau tidak sebagai wartawan. Untuk membangunkan daya nilai berita atau mengasah indra warta didalam diri si wartawan, karena senjata yang sangat diperlukan  dalam pekerjaan. Karena itu, seorang wartawan haruslah pandai:

1.Mengenal berita di antara berbagai fakta yang dijumpainya sehari-hari;
2.Tahu dimana tempat untuk mencari fakta-fakta berita;
3.Pandai memilih bagian tulisan mana yang ditonjolkan dan bagian mana yang tidak.
4.Membuang bagian-bagian yang tidak diperlukan dan bagian-bagian yang remeh.
   Nah itulah beberapa bahagian yang harus dimengerti tapi  tidak dihapal tapi dimengerti        saja.

Dengan hanya mengenal berita saja, seorang wartawan atau calon wartawan belum lagi dapat terjun ke gelanggang. Disamping mengenal berita, ia harus pula tahu unsure berita, yakni unsure yang harus ada didalam sebuah berita, yang dapat menarik pembaca untuk membaca beritanya.

Dari batasan-batasan tersebut diatas, dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa berita-berita itu haruslah menarik perhatian pembaca. Apa sajakah yang menarik perhatian pembaca?, secara mendalam lagi hal itu merupakan telah menjadi objek penelitian ahli-ahli psikologi Komunikasi massa.

Apa yang menarik perhatian pembaca haruslah terdapat dalam suatu berita, karena tujuan suatu pemuatan berita dalam suatu media massa adalah, agar ia dibaca. Karena itu unsur-unsur yang dapat menarik perhatian pembaca disebutkan sebagai unsur berita.   

Unsur Berita tidaklah harus seluruhnya terdapat dalam berita dari a ke z, akan tetapi ia terdapat secara tercampur baur. Kadang-kadang dalam sebuah berita hanya terdapat dua unsure saja, akan tetapi kadang-kadang seluruh unsur berita terdapat dalam berita. Dalam hubungan ini patut dikemukakan bahwa unsur berita termasa dan jarak akan selalu dijumpai dalam setiap berita.

Adapun unsure-unsur berita itu ialah sebagai berikut:
a.Berita itu haruslah termasa(baru)
b.Jarak(dekat jauhnya) lingkungan yang terkena oleh berita.
c.Penting(ternama) tidaknya orang biasa yang diberitakan.
d.Keluar biasaan dari berita.
e.Akibat yang mungkin ditimbulkan oleh berita itu.
f.Ketegangan yang ditimbulkan oleh berita itu.
g.Pertentangan(conflight) yang terlihat dalam berita.
h.peristiwa criminal/skandal dan pelecehan
i. tentang kemajuan
j.Emosi yang ditimbulkan berita itu.
j.Humor yang ada dalam berita.

Wartawan Profesi Menarik dan Penuh Tantangan

Wartawan adalah suatu Pekerjaan yang mulia, menarik dan penuh tantangan, Mulia karena segi sosial kontrol dan cek riceknya bila ada keganjilan dalam temuannya. Selanjutnya menarik karena pekerjaan wartawan sekarang ini jauh berlainan dari pada puluhan tahun yang lalu. Kemajuan Sistem ekonomi pasar dan teknologi informasi dan Komunikasi telah mendorong kemajuan media massa, terutama surat kabar dalam suatu dimensi baru. Surat - surat kabar telah menjadi Industri besar dan terbit dalam jumlah halaman yang lebih dari empat halaman. Sedangkan puluhan tahun yang lalu rata-rata setiap surat kabar cetak hanya terbit dengan empat halaman.
                                                  
Kemajuan dalam system ekonomi pasar global hingga dunia maya inilah secara ekonomis penghasilan seorang wartawan atau jurnalis  jauh lebih mapan.

Menurut seorang wartawan senior kawakan Indonesia Dja’far H. Assegaff, ada suatu masalah yang secara prihatin harus dikemukakan, yakni setelah persnya menjadi besar. Pada masa dulu, zaman penjajahan belanda dan sampai pada waktu revolusi fisik, banyak para cendekiawan kita yang masih sedikit yaitu, menerjunkan dirinya menjadi wartawan. Pasalnya dipastikan gajinya tidak besar, dan malah hidupnya biasanya juga tidak teratur. Tapi profesi ini menarik hati para cendekiawan karena ada segi idealismenya.

Assegaf juga menyinggung golongan terdidik sudah agak enggan untuk menerjunkan dirinya kedalam profesi kewartawanan. Para lulusan publisistik hanya lebih kurang 10% yang terjun dibidang jurnalistik. Sedangkan yang lainnya umumnya mengarah menjadi Pegawai Pemerintah atau Humas alias Infokom. Yang menjadi pertanyaan, apa yang menyebabkan terjadinya hal seperti ini?, Jawabnya adalah kemungkinan “Idealisme” dimasa dulu, mendorong pemuda-pemuda yang terdidik dari para cendekiawan kita untuk terjun ke surat kabar. Menjadi wartawan adalah suatu pekerjaan yang oleh mereka dianggap dapat mengubah bangsanya, menungkatkan wartawan.

“Api Idealisme inilah”  yang sesungguhnya telah menarik banyak intelektual muda kita untuk terjun kebidang jurnalistik. Nama-nama besar yang pernah memimpin Indonesia yakni, seperti Sukarno, Adam Malik, Sumanang, Alisastroadmijojo, dan lainnya adalah dulunya wartawan-wartawan yang menggunakan penanya dengan tajam, membangkitkan kesadaran Nasional dan melawan ketidakadilan dari kaum penjajah. Dimasa revolusi pemuda-pemudi yang terdidik baik, masih menerjunkan dirinya kedunia persuratkabaran, mengikuti profesi yang status sosialnya cukup tinggi.

Sifat Media massa di Negara-negara berkembang sperti Indonesia; sebagai menjadi katalisator perubahan sosial. Pemuda-pemuda dan cendekiawan yang punya wawasan dan idealis kedepan akan dapat mempergunakannya untuk mengubah bangsanya ke arah meningkatkan martabatnya. Kartini sendiri, seorang wanita Indonesia, dipenghujung abad kesembilan belas, menyatakan bahwa, “dengan pers aku akan mengubah bangsaku.”

Profesi wartawan juga dilihat oleh masyarakat dengan sikap yang ambivalent. Masyarakat melihat dan memuja wartawan-wartawan yang selalu menonjol dan kelihatan dalam masyarakat. Akan tetapi sebaliknya mereka juga terkadang merendahkan wartawan tadi, karena beberapa praktek yang tidak terpuji dari wartawan itu sendiri.

Surat kabar adalah senjata, dan senjata ini dapat digunakan untuk tujuan-tujuan baik atau dapat pula atau dapat pula dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang buruk. Satu kali noda telah terpercik, maka noda itu agak sulit untuk dihapuskan. Wajah wartawan sekarang tidak begitu gemilangm sehingga hal ini pun mungkin suatu sebab mengapa profesi ini kurang dapat menarik tenaga-tenaga terdidik yang penuh dedikasi dan idealism seperti di waktu-waktu dulu.

Jika dikonstatir hal-hal yang tidak begitu enak untuk didengar, dimaksudkan agar wartawan berusaha mengembalikan wajah wartawan yang gemilang. Ini berarti wartawan harus melakukan introspeksi diri. Wartawan harus meningkatkan bobot pendidikan yang lebih pada segi etika dan moral. Wartawan adalah suatu profesi yang penuh tanggung jawab dan juga profesi yang cukup besar risiko pekerjaannya. Untuk tipe pekerjaan atau profesi semacam ini diperlukan suatu jenis manusia, yang mempunyai idealisme, serta ketangguhan hati untuk menghadapi risiko dan gejolak masyarakat.

Dja’far H Assegaff mencontohkan, seorang sarjana India Dr. Lakshamana Rao didalam sebuah monografi mengenai penelitian komunikasi yang diterbitkan Unesco, menyebutkan empat kriteria untuk menyebutkan mutu pekerjaan sebagai profesi, yakni:
1.Harus terdapat kebebasan dalam pekerjaan tadi.
2.harus ada panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan itu.
3.Harus ada keahlian/expertice.
4.Harus ada tanggung jawab yang terikat pada kode etika pekerjaan.

Jelas sekali bahwa pekerjaan wartawan adalah merupakan profesi yang mulia dan memintakan tanggung jawab yang besar. Profesi wartawan juga merupakan status sosial yang tinggi, karena di banyak Negara berkembang, ia merupakan pemimpin opini publik dengan tulisan-tulisannya.



Apakah Sajakah Berita Itu?


Menurut ahli jurnalistik, lebih dari 90% isi sebuah harian atau surat kabar adalah berita dalam arti luas, yakni jika kita masukkan pula pengertian berita untuk iklan.Dengan demikian nyatalah berita merupakan  bagian yang terpenting, kalau tidak akan kita katakan maha penting bagi sebuah harian, atau Media Online.

Untuk member batasan(Definisi) berita amatlah sulit , banyak penulis dan sarjana-sarjana publisistik mengalami kesukaran dalam merumuskan definisi berita, yang dapat mencakup seluruh segi dari berita.

Betapa sulitnya meberikan definisi berita. Menurut sejumlah ahli-ahli publisitik salah satunya Earl Englih dan Clarence Hach dalam bukunya “Schoolastic Journalism” mengatakan, memberikan batasan atau definisi berita adalah sukar, karena berita mencakup banyak factor-faktor variable.

Dengan memberikan pendekatan Earl English danClarence Hach yang dikatakan sulit untuk memberikan batasan berita, tidak berarti kita harus tidak memberikan batasan berita. Batasan dan pengertian akan berita, nilai berita, sangatlah penting bagi seorang wartawan, yang justru pengertiannya akan berita dan kepandaian menilai berita, akan menentukan sekali karirnya sebagai wartawan.

Kalau kita periksa kamus, kita akan menemui perumusan berita sebagai: “Laporan tentang suatu kejadian yang terbaru”, atau “Keterangan yang baru tentang suatu peristiwa”. Jelas sekali dari kamus kita tidak akan mendapatkansuatu gambaran yang benar dan mencakup segi-segi yang esensiil dari berita.

Menurut sejumlah ahli publisistik yang dikatakan Dja’far Assegaff, berita lebih mudah untuk dikenali atau diketahui, daripada diberikan batasannya. Seorang wartawan akan gampang saja menunjukkan mana yang berita, dari pada ia harus merumuskan apa berita itu.

Sekarang marilah kita lihat beberapa batasan(definisi) berita yang diberikan oleh ahli-ahli dan wartawan-wartawan. Secara sederhana dan gambling seorang penulis menyatakan, bahwa berita: North, Easth, West, dan South(N-E-W-S) yang menunjukkan sifat berita yang menghimpun keterangan dari empat penjuru angin.

Perumusan lain mudah diingat dan praktis, juga menjadi batasan berita yang sangat terkenal adalah, ucapan Charles A. Dana pada tahun 1882, yang mengatakan: When a dog bites a man that is not news, but when a man bites a dog that’s is news”(apabila seekor anjing menggigit orang itu bukanlah berita, akan tetapi apabila orang menggigit anjing, itu baru berita). Batasan(definisi) yang plastis dan terkenal ini, sesungguhnya tidak benar sama sekali, karena jika yang digigit itu seseorang yang terkenal, misalnya bintang Film yang ternama atau publik figur yang di tokohkan, makaia tetap merupakan berita besar. Satu hal yang nyata dari batasan yang plastis, menunjukkan sikap keluar biasaan yang dikandung oleh berita, yakni “ jika manusia menggigit anjing”, karena manusia yang menggigit anjing adalah sesuatu yang luar biasa.

Selanjutnya lagi, beberapa batasan berita yang diberikan oleh penulis-penulis/sarjana-sarjana yang lain. George C. Bastian dalam bukunya yang berjudul “Editing the Day News”, merumuskan, batasan beritanya dalam bentuk yang disebutnya “Arith metic News”, yaitu:
1 orang biasa + 1 penghidupan biasa                                     = 0
1 orang biasa + 1 pengalaman luar biasa                               = Berita
1 suami biasa + 1 istri biasa                                                    = 0
1 suami + 3 istri                                                                       = Berita
1 kasir Bank + 1 istri + 7 anak                                                 = 0
1 kasir bank - $ 10.000                                                            = Berita
1penyanyi + 1 Presider Bank - $ 10.000                                  = Berita
1 pria + 1 mobil + 1 pistol  +  1 tahanan                                   = Berita
1 orang + 1 ciptaan                                                                  = Berita
1 orang lelaki + 1 istri + 1 sengketa + 1 peradilan                   = Berita
1 wanita + 1 pengalaman atau ciptaan                                    = Berita
1 orang biasa + 1 kehidupan biasa dari 79 tahun                    = 0
1 orang biasa + 1 kehidupan dari 100 tahun                            = Berita






5 Hal Yang Membuat Wartawan Sukses

Sebagai seorang wartawan atau Publisher, sudah seharusnya memperhatikan potensinya yang ada didalam diri pribadi untuk sukses dalam profesinya sebagai seorang wartawan yang profesional, dihormati, mapan dan dihargai.

Dalam dunia jurnalistik seorang wartawan itu adalah seorang yang pandai, cerdik dan ulet dalam aktivitasnya sehari-hari. Keuletan seorang wartawan bisa dilihat dari aktivitasnya sehari-hari yang tak pernah lelah dalam mencari sumber-sumber inspirasi yang di olah menjadi berita dan di publikasikan ke khalayak umum.


Sebagai seorang penulis, sembari menikmati kopi pagi, seseorang teman yang merupakan seorang wartawan senior mengatakan, "saya melihat kawan-kawan pers atau jurnalis kurang bersemangat", katanya.

Kemudian, lanjutnya, seorang pewarta atau jurnalis harus semangat, jangan hanya mencari berita ceremony belaka, berita itu banyak.

kemudian saya terus minta penjelasan terhadapnya apa yang membuat wartawan itu sukses dan mapan?, saya sengaja menggali isi maksudnya supaya mampu menjadi wartawan yang handal seperti dirinya, sebut lah namanya suri.

Suri mengatakan menjadi wartawan yang sukses dan mumpuni ada lima hal yakni, Baguskan berita sendiri(terus belajar), perbanyak Relasi, pandai beradaptasi, berani dan uang. Setelah saya berbincang sejenak, saya memperincikan menjadi publisher atau wartawan yakni:

Baguskan Berita
Maksudnya disini ialah seorang penulis atau wartawan lambat laun kalau terus meningkatkan kreativitasnya menulis, pasti akan diperhitungkan, serta siap pakai, sehingga nilai jualnya tinggi dan berkemampuan dalam menulis berita jenis apa saja, jadi berusahalah terus menerus belajar dengan niat yang baik.

Perbanyak Relasi
Seorang wartawan adalah sang petualang, banyak berjalan banyak tau dan mempunyai banyak relasi sekan seprofesi serta banyak kenalan mulai dari kalangan atas hingga kalangan bawah, tak heran wartawan menjadikan seorang yang pandai berkomunikasi dalam segi kehumasan, dan menjaga komunikasi yang baik.

Pandai Beradaptasi
Dalam suatu situasi tertentu sang pemburu harus mampu mengikuti gerak arus suatu massa, dan mempunyai insting yang kuat, didalam keramaian bisa saja ada terkandung unsur berita, kelihaian insting jurnalis bisa terlihat bila terus menerus melatih instingnya atau indra wartanya.

Berani
Dibahagian ini 'Berani' tak heran banyak masyarakat kagum bila diterapkan di karakter seorang pewarta, mereka hanya tahu wartawan itu tau, peka dan faham akan segala hal, dan bila ada berita yang menyangkut kepentingan orang banyak, bila itu benar jangan takut-takut untuk memberitakannya, yakinlah tuhan akan selalu menyertai orang yang berbuat baik dalam menyingkap tabir kebenaran.

Uang
Nah dibahagian inilah wartawan selalu dilemahkan, siapa yang tak mau uang, semua orang pasti membutuhkannya, bagiku bila kita sudah berpotensi, dan bekerja cukup maksimal uang akan datang dengan sendirinya, namun pandai-pandailah menjaga harga diri, namun jangan menolak rezki.

Demikianlah trik ciri khas pewarta, yang saya ketahui, setelah berbincang-bincang sejenak dengan salah seorang teman yang kebetulan wartawan senior di daerah saya, bila ada masukannya maka saya akan senang sekali.


Pengaruh Pers Terhadap Pembaca Sebagai Pemimpin Opini



Pengaruh Pers oleh para ahli-ahli komunikasi dianggap termasuk dalam kehidupan Sosiologi(Ilmu Sosial) Pers yang mempelajari hubungan timbalik balik antara Pers dengan Masyarakat .  Pers maupun Masyarakat saling pengaruh mempengaruhi. Pers yang mengutip sumber-sumbernya yang terpercaya dalam penyajiannya terhadap masyarakat dan dalam bidang pendidikannya mencerdaskan bangsa  tidak dapat diragukan lagi.

Saking berpengaruhnya Pers  Perusahaan-perusahaan melalui ahli-ahli periklanannya yang mahir  memanfaatkan Media-media massa baik Cetak, Elektronik dan Online  untuk mempengaruhi Masyarakat menjual produknya. Artinya, betapa ampuhnya media massa mempengaruhi kebiasaan Masyarakat. Kebiasaan di dalam membeli dan mempergunakan hal-hal baru merupakan pelajaran khusus bagi ahli peletakan periklanan disuatu media.  Intinya, tujuan para ahli periklanan ini adalah untuk membentuk pola konsumsi baru, sehingga produk yang akan dipasarkan mereka akan semakin tersosialisasi dan laku ditengah-tengah Masyarakat luas.

Walaupun  orang tidak menyangsikan  keampuhan media massa untuk mempengaruhi masyarakat, namun dari studi-studi tentang pengaruh nyata, Pers tidak mempunyai daya untuk mempengaruhi secara langsung. Namun berdasarkan Hipotesa yang dikembangkan oleh Elihu Katz, seorang ahli komunikasi Amerika, pengaruh Pers bertingkat ganda, yakni dengan melalui apa yang disebut pemimpin Opini(Opinion Leader). Pers mempengaruhi pemimpin Opini dan mereka inilah kemudian yang mempengaruhi Masyarakat secara luas. Dengan mengambil contoh kampanye pemasaran, seperti Unilever yang secara luas menggunakan media massa, toko masih selalu harus didukung oleh petugas-petugas penjual yang mendatangi dari pintu ke pintu.

Selain Pers penggiring Opini Masyarakat, sebaliknya Masyarakat juga mempengaruhi Pers. Antaranya dapat dilihat dari jenis-jenis pemberitaan dan sajian yang didasarkan oleh Pers Berdasarkan pengaruh Masyarakat.

Pers sangat tergantung pada Masyarakat yang dilayaninya, karena maju atau mundurnya suatu usaha Perusahaan Pers ditentukan oleh daya minat pembaca yakni Masyarakat luas. Masyarakat dapat menunjukkan pengaruhnya dengan pemboikotan langganan maupun keinginannya untuk rubrik-rubrik tertentu.

Nah, untuk dapat melihat selera pembaca diperlukan sekali data-data tentang khalayak pembaca kesukaannya dan kegemarannya di tingkat-tingkat lapisan masyarakat pembaca. Untuk itu maka sebuah surat kabar atau media massa biasanya perlu mengadakan penelitian khalayak masyarakat pembaca(Audience research).

Dengan mengetahui selera dan kesukaan khalayak masyarakat pembaca menghabiskan waktu dengan media massa, akan dapat dipergunakan untuk menyusun rubrik dan program siaran baik televisi maupun Radio sehingga dapat menarik pembaca yang banyak.


Data-data pembaca tingkat Pendidikan, umur dan juga lapisan penghasilan dan pemilikan barang-barang mewah(lux) akan sangat berguna untuk dapat dipakai menarik pemasang-pemasang iklan. Dalam usaha untuk menarik pemasang iklan data-data khalayak ini diperlukan sekali, Karena Perusahaan-perusahaan baru akan tertarik memasang iklan jika tahu media massa yang dipilihnya itu page Viewnya tinggi atau media yang dipilihnya itu mencapai jenis khalayak pembaca yang banyak sesuai dengan yang dikehendakinya.

Fungsi Pers Dalam Kehidupan Bermasyarakat dan Bernegara

Setelah saya menjelaskan pengertian jurnalistik dan aspek-aspeknya serta asal mula kata jurnalistik, saya akan kembali menjelaskan fungsi Pers. Para ahli komunikasi massa menyebut Pers mempunyai peranan dan fungsi pokok utama dalam kehidupan bernegara yakni, memberikan informasi, memberikan hiburan, dan melaksanakan Sosial kontrol.
Menurut para ahli Jurnalisme ketiga fungsi pokok jurnalis itu, fungsi terakhir yang terpenting, karena dalam hakekatnya dianggap sebagai pengawas baik dalam kemasyarakatan, maupun didalam Pemerintahan(Government). 

Pers juga digadang-gadangkan sebagai pilar Pemerintahan keempat setelah Pemerintahan Legislatif, sehingga tak heran Pers digelar salah satu Lembaga Masyarakat yang peka dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam alam Demokrasi liberal, sering disebutkan bahwa Pers adalah Penjaga demokrasi.

Dalam Undang-undang No. 11 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok Pers, telah disebutkan dan diakui fungsi-fungsi tadi secara jelas dalam Bab II pasal 2 sampai 5. Disamping fungsi Pers yang disebutkan tadi, pada Bab II pasal 2 dan 5, dicantumkan pula hak-hak dan kewajiban Pers nasional.


Antara lain disebutkan hak kritik yang diakui. Kewajiban pers nasional dalam undang-undang pokok pers yaitu, mempertahankan UUD 1945, memperjuangkan amanat rakyat berlandaskan Demokrasi Pancasila, Memperjuangkan kebenaran dan keadilan, membina kesatuan dan persatuan bangsa, dan menjadi penyalur pendapat umum yang konstruktif.
Dari kutipan pokok-pokok Pers ingin ditunjukkan bahwa ‘kebebasan’ Pers diakui, demikian pula hak kritik, meskipun diberi kebebasan pers juga mempunyai batasan-batasan yang disebut dalam konsep teori Pers bebas dengan pertanggung jawaban sosial( a Responsible pers). Ketetapan MPRS No. XXXII/MPRS/4/1966 dalam pasal 2 tegas menyatakan pengakuan terhadap kebebasan Pers dengan dasar pertanggung jawaban sosial, yang disebutkan “Kebebasan Pers berhubungan erat dengan keharusan adanya pertanggung jawaban kepada:
1.Tuhan yang maha esa
2.Kepentingan rakyat dan Keselamatan Negara
3.Kelangsungan dan Penyelesaian revolusi.
4.Moral dan Tata Susila.
5.Kepribadian Bangsa.

Dari sini jelaslah bahwa wartawan Indonesia didalam menjalankan Profesinya menikmati kebebasan Pers, bagi seorang wartawan, Iklim kebebasan ini penting sekali untuk menumbuhkan :”Kreativitas” di dalam pekerjaannya untuk mengabdi kepada publik.
Kebebasan Pers dalam jurnalistik Modern tidak hanya kebebasan untuk menyiarkan berita, akan tetapi juga secara jauh kebebasan tadi menyangkut kebebasan untuk mendapatkan fakta-fakta dari sumber-sumber berita. Undang-undang pokok pers Jerman yang baru, oleh ahli-ahli hukum pers dianggap sebagai undang-undang pers yang paling maju, mereka mencantumkan ketentuan-ketentuan bahwa seorang wartawan berhak mendapatkan fakta-fakta dan informasi dari sumber-sumbernya.

Kebebasan pers tidak berarti bahwa wartawan didalam menjalankan tugasnya dapat berbuat semaunya, karena wartawan didalam menjalankan profesinya juga terkait dengan aturan-aturan perundang-undangan yang menyangkut delik. Dalam delik pers diatur masalah-masalah yang menyangkut fitnah, pencemaran nama baik dan penghinaan. Untuk itu mencegah masyarakat dirugikan oleh pers, maka diatur pula ketentuan-ketentuan mengenai etik pers. Kode etik Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) mengatur tingkah laku dan etik yang harus dijunjung wartawan didalam menjalankan fungsinya.

Diantara hal-hal yang diatur dalam kode etik PWI misalnya, terdapat pegangan pokok bahwa wartawan Indonesia didalam menyiarkan beritanya tidak akan mencampur baurkan antara opini dan fakta. Hal-hal lain yang juga diatur dalam etik adalah mengenai sumber berita dan hak jawab. Sumber berita yang minta dilindungi, akan dijunjung tinggi dan sebegitu jauh menurut Yurisprudensi yang ada, hak ingkar bagi wartawan Indonesia diakui. Hak ingkar adalah hak bagi wartawan untuk melindungi sumbernya yang minta dilindungi/dirahasiakan namanya.

Karena sifat pekerjaannya yang cepat dan tergesa-gesa, surat kabar tidak alpha dari membuat kesalahan dan kekhilafan. Karena itu seseorang yang merasa dirugikan oleh pemberitaan sesuatu surat kabar dapat meminta hak jawab, yakni hak permuatan penjelasan untuk memperbaiki apa yang telah diberitakan oleh surat kabar yang sifatnya tidak benar atau salah.

Lazimnya ada suatu pegangan bahwa hak jawab ini diberikan sesuai dengan letak dimuatnya berita tadi. Kalau dihalaman1, maka hak jawab dimuat juga dihalaman 1 dan maksimal diizinkan memuatnya tiga kali ruang yang dipergunakan berita. Sedangkan tentang pelaksanaan hak jawab masih sering terjadi pertikaian antara redaksi dan pembaca, dan jika terjadi pertikaian; maka Dewan Kehormatan PWI yang akan menyelesaikannya. Dewan Kehormatan PWI bertugas untuk mengawasi dilaksanakannya etik PWI oleh wartawan Indonesia.

Kemudian hal lain dari bagian etik Pers adalah dikenal dengan “Peradilan oleh Pers”(trial by newspaper), yakni pemberitaan pers yang sifatnya telah menghukum orang yang belum tentu bersalah. Seorang wartawan yang baik akan mengenali hal semacam ini, karena dapat merugikan reputasi seseorang. Dalam kaitan ini maka juga dapat disebutkan “ the right of privacy”(Hak Privasi) seseorang yang sering dilanggar pers. Contohnya yang paling unik ialah contoh mengenai istri presiden Kennedy dalam perjalanan di Afrika, ia mandi tanpa busana karena tercekam oleh keindahan alam, sang juru potret yang mengikutinya dalam perjalanan itu dengan sembunyi dan menggunakan telelens berhasil mengabadikan Nyonya kennedy itu dalam pakaian Hawa.

Potret ini dipublisher disebuah Surat kabar Amerika, sehingga menimbulkan heboh. Masalah ini kemudian dibawa kepengadilan dan sangwartawan dijatuhi hukuman karena dianggap bersalah melanggar privasi seseorang.

Dalam system hukum kita yang bertanggung jawab dalam kasus-kasus hokum yang dilanggar wartawan adalah pemimpin redaksi selaku penanggung jawab. Namun karena kita juga mengenal system pertanggaan dalam hokum, maka biasanya juga dicari sampai kejenjang bawah, yakni orang yang membuat kesalahan. Pengusutan biasanya bisa diteruskan sampai kepada siorang yang bersalah. Dalam tulisan-tulisan yang ditandai pengarangnya(by line Story), atau artikel maka si penulis dianggap dader, meskipun Pemimpin Redaksi masih dapat terkena oleh delik penyebaran(verspreide delicten).


Wartawan Dan Perkembangannya


Asal mula surat kabar yang disebut ‘acta diurna’ yang terbit di zaman Romawi: dimana berita-berita dan pengumuman ditempelkan atau dipasang Apa yang anda ketahui tentang seorang Wartawan?, atau bahasa moderennya Jurnalis atau juga Reporter?, pasti terbayang seseorang yang super sibuk, ambisius yang membawa bermacam-macam pernak pernik peralatannya, baik berupa pulpen, buku catatan, tape record, handphone dan camera Digitalnya untuk mencari sebuah informasi berita.

Saya sebagai seorang wartawan akan berbagi pengalaman dalam keseharian saya namun saya akan lebih dahulu memberikan atau memberanikan diri untuk menjelaskan secara detail satu persatu pengertian Jurnalistik dan perkembangannya sebagai tuntunan praktek menuju kewartawan professional, sesuai dengan pengalaman saya dan dari berbagai sumber media baik dari yang dipelajari dari pelatihan-pelatihan dan ceramah-ceramah yang saya pelajari yang dapat menuntun para wartawan untuk mendalami berbagai masalah dalam profesinya sebagai Wartawan.

Dalam ide-ide tulisan yang saya tuangkan dan share a
tau bagi ini adalah berdasarkan pengalaman saya dan ilmu yang saya pelajari. Tentu ada kekurangannya disana sini dalam hal inilah saya mengharapkan adanya kritik dan saran-saran pembaca sehingga dalam tulisan-tulisan saya yang akan datang dapat diperbaiki dan semakin baik.

Baiklah berikut tata cara tuntunan yang bisa dipelajari perlahan-lahan untuk diterapkan dan disesuaikan dalam profesinya nanti sebagai seorang wartawan:

Pengertian Wartawan dan Perkembangannya
Di abad modern seperti sekarang ini, kehidupan Masyarakat sepertinya tidak lepas lagi dari wartawan dan Pers serta Media Sosial. Secara spontan para ahli jurnalistik menyamakan Pers dan media Sosial yang saling mempengaruhi seperti udara yang dibutuhkan manusia untuk sumber informasi dalam mencari rezeki yang secara ekstrimnya Manusia modern tidak lagi dapat hidup tanpa mendapatkan suguhan dari Media, yang memenuhi kebutuhan Masyarakat akan Informasi.

Dalam topik ini saya tidak mengupas tuntas tentang Media Sosial tapi saya terlebih dahulu cendrung menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan jurnalistik apa yang pernah saya pelajari.

Dalam kamus, jurnalistik dijelaskan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, menyunting, dan menulius untuk Surat kabar, majalah, atau naskah lainnya.
Secara umum orang-orang menyamakan Jurnalistik dengan Pers dan terkadang lebih mudah dengan menyamakan Jurnalistik sebagai surat kabar atau majalah. Hal ini terbentuk secara umum disebabkan media massa yang paling tua dan yang paling pertama ditemui adalah ‘Media tercetak’. Oleh karena itu sangat lazim sekali orang-orang mencampur adukkan pengertian jurnalistik dengan Pers.

Menurut informasi yang diketahui asal kata, jurnalistik dapat ditelusur jauh, sampai kepada dipusat kota yang kala itu disebut Forum RomanumDikutip dari berbagai sumber ternyata Jurnalistik adalah ‘Journal’ atau ‘Du Jour’ yang berarti segala berita atau warta sehari itu termuat dalam lembaran yang tercetak. Seiring dengan kemajuan zaman teknologi percetakan Surat kabar dengan system Silinder(Rotasi), maka istilah ‘Pers’ muncul sehingga orang-orang lalu mensenadahkan istilah ‘Jurnalistik’ dengan ‘Pers’.

Sekarang timbul lagi istilah baru yang sudah umum dipergunakan yakni ‘Komunikasi’ dan Online, sehingga di zaman teknologi Komunikasi yang semakin canggih ini menjadikan jenis-jenis wartawan semakin terbagi-bagi yakni wartawan Media Cetak, Elektronik hingga wartawan Media Online plus sejumlah Media Sosial Online.

Sudah dikemukakan bahwa media massa yang paling pertama ditemukan adalah “Media Tercetak” entah ia Surat Kabar atau Majalah. Kemudian dalam awal abad kedua puluh ditemukan Media massa baru, yang dapat lebih cepat menyampaikan pesan, yakni Radio. Radio pada pada awal pertumbuhannya hanya digunakan segagai sarana-sarana hiburan dan promosi, kemudian ternyata dapat dikembangkan untuk menyampaikan berita-berita, secara lebih cepat dan dan dapat mencapai jarak yang jauh. Oleh karena itu istilah jurnalistik mulai mendapat tambahan baru, yakni jurnalistik radio(Radio Journalism, Broadcasting Jurnalism.
Selanjutnya, ditemukannya
 film juga mempunyai implikasi pada masalah berita film yang tidak hanya memuat gambar akan tetapi juga sekaligus juga suara. Pada sekitar tahun tiga puluhan sampai lima puluhan, berita Film(Movie News) sangat terkenal. Sehingga ketika Televisi ditemukan, maka jurnalistik Radio sebagai istilah tidak lagi mencukupi, sehingga orang menggunakan istilah baru untuk kedua jenis jurnalistik, dengan menyebutnya Jurnalistik Elektrika(Elektronik Jurnalism). Sedangkan untuk media yang mencakup radio dan televise.

Sekarang dengan ditemukannya berbagai macam penemuan baru dibidang penyampaian pesan dan berita, dipergunakan istilah “Komunikasi”, yang lebih luas disebutkan mencakup segala aspek dan proses penyampaian pesan. Media sebagai saluran pesan yang dapat menyampaikan jumlah massa yang besar dan heterogen  semakin Lazim dikenal dengan istilah “Media massa”.

Dengan penjelasan tersebut maka perkembangan Jurnalistik dan Komunikasi dalam kaitannya dengan dunia modern, yaitu kegiatan untuk menyampaikan pesan/berita kepada khalayak ramai(massa), melalui saluran media cetak, Radio, Televisi hingga media Online(Internet).

Komunikasi massa dalam abad modern sudah merupakan Industri raksasa, baik dibidang penerbitan, siaran Radio, Televisi, Online(Daring), maupun perusahaan-perusahaan lain yang menunjang kegiatan komunikasi massa, misalnya perusahaan iklan, pusat-pusat produksi siaran, sampai pula kepada perusahaan-perusahaan  yang menjual jasa penelitian. Untuk perlu memahami “jurnalistik modern”  perlu dikenali cirri-ciri  yang terdapat pada Komunikasi massa yakni:

1. Umumnya Komunikasi massa bersifat komunikasi searah.
2. Menyajikan rangkaian dan aneka pilihan yang luas, baik ditinjau dari khalayak yang 
    Akan dicapai maupun dari segi pilihan isi oleh khalayak media massa.
3. Sifat dari media massa dapat menjangkau sejumlah besar khalayak yang tersebar                                           
    karena jumlah media lebih sedikit daripada khalayaknya.
4. Sifatnya untuk menarik perhatian khalayak yang luas dan besar, maka ia harus dapat
    dapat mencapai tingkat intelek rata-rata (umum). Seorang Redaktur bahwa untuk
    berhasil , ia harus mampu mencapai orang yang membaca sambil bibirnya bergerak.
5. Organisasi yang menyelenggarakan komunikasi massa merupakan lembaga
    masyarakat, yang harus peka terhadap lingkungannya.